Rabu, Mei 06, 2009

Membangun Rasa Sayang dan Hormat pada Anak

Oleh: Akmaliyah
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 16 (24 April 2009)

Saat ini perilaku anak-anak dan remaja kita menunjukkan hal-hal yang sangat mengkhawatirkan. Penanaman budi pekerti menjadi dipertanyakan. Selanjutnya orang tua, guru dan masyarakat mulai mencari kambing hitam.
Mereka mempermasalahkan peran dan fungsi media elektronik yang canggih yang telah mengoyak mentalitas anak untuk memiliki pekerti baik berupa rasa sayang dan hormat. Mereka mempersalahkan tayangan televisi, internet, dan HP yang telah merenggut pekerti yang baik berupa rasa sayang dan hormat dari hati sanubari mereka. Padahal bukankah media elektronik yang canggih itu merupakan pisau bermata dua, di samping memiliki nilai negatif tetapi di sisi lain ia juga memiliki banyak nilai positif? Selain itu, kaum perempuan bekerja juga kena sorotan, mereka dianggap menjadi salah satu penyebab merosotnya moral anak-anak. Patutkah kaum perempuan bekerja dipersalahkan?
Rasa sayang dan hormat adalah dua jenis nilai dalam pekerti yang paling mendasar untuk membina pergaulan yang baik antar sesama. Dua jenis pekerti ini bisa dimiliki siapa saja tanpa perlu membutuhkan kecerdasan intelektual yang baik, karena anak yang cerdas otaknya belum tentu memiliki rasa sayang dan hormat atau belum tentu memiliki pekerti yang baik.
Sayang dan sikap hormat merupakan bentuk kecerdasan emosional dan spiritual seseorang. Dua kecerdasan ini merupakan faktor yang sangat penting dan menunjang keberhasilan dan kebahagiaan seseorang. Bukan hanya kebahagiaan di dunia, tetapi juga di akhirat. Seseorang yang cerdas otaknya belum tentu bisa meraih keberuntungan di dunia atau di akhirat, jika kecerdasan emosional dan spiritualnya rendah.
Hubungan dan sikap kepada orang lain merupakan kunci sukses keberhasilan di dunia,ini bisa diatasi dengan kecerdasan emosional. Sedangkan hubungan dan sikap kepada Tuhan merupakan kunci sukses di dunia dan akhirat. Bekal kecerdasan emosional saat berhubungan dengan orang lain agar keberhasilan dunia dapat diraih belumlah cukup. Perlu ditopang dengan kecerdasan spiritual, yaitu kekuatan Tuhan yang dapat membolak-balik perasaan hati manusia; muqallib al-Qulûb. Tuhan juga di atas segalanya, pemilik dan penentu semua kejadian. Manusia hanya bisa berusaha.
Bukan berarti kecerdasan intelektual tidak perlu. Kecerdasan intelektual tetap diperlukan karena pengetahuan dan kehidupan perlu dikembangkan juga dengan kecanggihan pikiran dan pengetahuan. Tetapi kecerdasan intelektual bukan segala-galanya. Yang terpenting adalah keberuntungan dalam hidup. Ada kalimat bijak dalam bahasa Arab : Anta mâhirun wa lâkin laysa laka hadzzun (Anda memang pintar tapi Anda belum beruntung). Keberuntungan hidup hanya akan dapat dicapai dengan memanfaatkan kecerdasan emosisonal dan spiritual dengan sebaik-baiknya.

Menanamkan Rasa Sayang dan Hormat
Menurut Ahmad Tafsir, tujuan pendidikan Islam menciptakan manusia yang sempurna, atau manusia yang taqwa, manusia beriman dan beribadah kepada Allah (2005: 51). Menurut Ahmad D. Marimba (1989: 46), tujuan pendidikan adalah terbentuknya kepribadian Muslim. Sedangkan menurut Athiyah al-Abrasyi (t.t: 113) bahwa tujuan pendidikan adalah tercapainya akhlak yang sempurna, sebagaimana dimaksudkan diutusnya Rasulullah pada umat manusia, yaitu diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Maka, pekerti dapat disosialisasikan pada anak dalam bentuk pendidikan. Kegiatan pendidikan yang memiliki tujuan sepeerti diuraikan di atas. Pendidikan ini dapat dilakukan anak sejak dalam rahim hingga menjelang akhir hayatnya. Tahapan pendidikan pekerti pada anak seperti halnya praktek pendidikan manusia pada umumnya, yaitu telah dimulai sejak anak manusia belum menjadi janin, bahkan sejak ibu dan ayahnya masih pacaran dan masih dalam tahap memilih-milih bakal calon ibu dan ayah si anak; pendidikan selanjutnya saat ayah ibu menikah, lalu melakukan senggama; pendidikan anak manusia saat menjadi janin di rahim ibunya; pendidikan anak manusia saat menjadi bayi, lalu anak-anak; dan pendidikan anak manusia menjelang remaja dan dewasa; pendidikan manusia setelah mencapai orang tua/jompo.
Ajaran pekerti yang utama dilakukan adalah rasa sayang dan sikap hormat kepada orang tua dan orang sebaya atau yang lebih muda. Mengutip sebuah hadist: laysa minnâ man lam yarham shagiranâ wa lam yuwaqqir kabîranâ (bukan merupakan golonganku (Nabi) barang siapa yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua. Hormat dan sayang perlu dilakukan anak-anak pada orang yang lebih tua). Jika rasa sayang anak-anak pada orang yang lebih tua tidak ada, maka dia akan menempatkan orangtuanya di panti jompo dan membiarkannya merana di rumah jompo itu tanpa dihiraukan keberadaannya lagi. Rasa hormat pada orang tua akan menumbuhkan sikap taat dan patuh pada nasehat dan sarannya. Sikap hormat ini akan menjadikan anak meyakini dan mengikuti ajaran atau pendidikan yang diberikan orang yang lebih tua sebagai orang yang lebih tahu dan banyak pengalaman.
Rasa sayang pada anak sebaya atau yang lebih muda akan menumbuhkan sikap saling tolong-menolong dan tidak menyakiti satu sama lain. Baik menyakiti fisik maupun psikis. Rasa hormat pada anak sebaya atau yang lebih muda akan menumbuhkan rasa saling menghargai, tidak menganggap satu dengan lainnnya lebih tua, lebih pintar, lebih kaya, atau patut mendapat penghormatan berlebihan dari yang lebih rendah posisi dan usianya.
Pendidikan pekerti atau rasa sayang dan sikap hormat ini dapat dilakukan oleh orangtua di rumah dengan memberikan pengetahuan dan ajaran pekerti ini, sekaligus memberikan contoh yang baik dari orangtua. Contoh dan pengajaran yang baik bukan hanya dilakukan oleh ibu tapi juga bapak, sehingga perempuan bekerja dapat mengajukan usulan untuk mengatur pola waktu dan perhatian pada anak dengan suaminya.
Pendidikan di sekolah bisa dilakukan para guru. Pendidikan di sekolah dapat dilakukan dengan pemberian materi pekerti dan contoh yang baik seperti halnya pendidikan yang dilakukan para orang tua. Pendidikan juga dapat dilakukan oleh masyarakat berupa pembinaan nonformal dalam bentuk pelatihan atau diskusi. Masyarakat bisa mendidik anak secara langsung berupa pemberitan teguran yang arif dan bijaksana pada anak jika masyarakat melihat secara langsung sikap dan perilaku anak yang menyimpang dari pekerti yang baik. Masyarakat semestinya menganggap anak-anak orang lain juga merupakan bagian darinya karena mereka juga tidak bisa lepas dari ikatan sosial dan emosional dengan orang lain saat bermasyarakat.
Teguran dan nasehat langsung dari masyarakat merupakan contoh yang baik bagi anak bahwa anak mendapat penghargaan dan perhatian masyarakat yang cukup dari orang sekitarnya. Anak mendapat contoh realisasi pekerti yang baik dari masyarakat, berupa rasa sayang dan hormat antaranggota masyarakat, meskipun ikatan itu terjadi antara anak dan orang dewasa.

Pembinaan di Masyarakat
Pendidikan pekerti berupa rasa sayang dan hormat pada anak juga bisa dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk pembinaan. Bentuk pendidikan nonformal di masyarakat seperti pelatihan atau diskusi dapat dilakukan masyarakat dalam upaya membina anak-anak.
Materi pendidikan dalam pembinaan di masyarakat dapat berupa: cerita atau sejarah yang telah terjadi. Cerita atau sejarah ini agar bisa diambil pelajaran untuk melatih rasa sayang dan hormat pada sesama. Cerita dapat diperoleh dari bahan cerita nabi, peristiwa saat ini di belahan dunia, persitiwa teman atau diri sendiri. Metode yang dipakai dalam bercerita tentang Nabi atau peristiwa sekitar tidak melulu disajikan dalam bentuk ceramah, tetapi bisa juga dalam film atau CD, bisa juga dalam bentuk membacakan cerita dan dongeng. Untuk cerita teman atau diri sendiri masing-masing dari mereka bisa bercerita di depan teman-temannya. Ini juga bisa melatih keberanian untuk tampil dan belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan anak-anak.
Materi pembinaan lainnya adalah permainan yang mendidik; keakraban dengan berkunjung dari rumah anak satu ke rumah anak lainnnya. Saling memberi kenang-kenangan berupa barang dengan harga yang sangat terjangkau. Memberikan hukuman dan hadiah dari pembina bagi anak yang bisa merealisasikan rasa sayang dan hormat pada temannya.
Pembinaan ini dapat dilakukan di alam terbuka, masjid atau rumah yang cukup luas halamannya. Keluasan lahan pembinaan juga cukup menentukan perasaan anak-anak untuk bisa menikmati pembinaan ini. Pelaksanaan dapat dilakukan seminggu atau sebulan sekali. Pembinaan ini diharapkan sebagai media refreshing, belajar sambil bermain, untuk menghilangkan rasa jenuh setelah mereka penat belajar di sekolah selama berhari-hari, tetapi mereka tetap mendapat hal-hal yang bermanfaat dari pembinaan ini.
Efektifitas pembinaan ini dapat dilakukan melalaui evaluasi berupa kuis dan penilaian sikap sehari-hari. Jika ternyata masih terdapat anak yang belum bisa dinilai berhasil menyerap pembinaan ini, anak dapat dibina dengan pendekatan individual. Diajak berbicara dengan penuh kasih sayang untuk mengetahui hambatan kemampuannya menerima dan mengekspresikan nilai-nilai yang diajarkan.

(Penulis, Dosen Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung, Ketua Lembaga Kebudayaan PW ‘Aisyiyah Jawa Barat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar