Rabu, Mei 06, 2009

Belajar Menerima Hidup Seutuhnya

Oleh: Supriyatna Abdul Gafur
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 18 (08 Mei 2009)

Peredaran narkoba dan miras semakin menggila. Beberapa kali pabrik raksasa obat terlarang itu terbongkar di wilayah sekitar Jabodetabek. Negara kita memang telah menjadi surga bagi konsumsi tapi juga produksi narkoba. Ironis memang, di negara yang mayoritas penduduknya masyarakat Islam. Terakhir korban yang menenggak miras berjamaah kembali berjatuhan di Banjar. Lima orang meninggal sedangkan lima belas lainnya masih kritis di rumah sakit. Kasus tersebut masih dalam penyelidikan aparat yang berwenang. Salah satu dugaan sementara pesta itu merupakan ‘syukuran’ atas lolosnya calon legislatif yang mereka dukung.
Terlepas dari benar tidaknya pesta miras sebagai “syukuran”, dalam menghadapi sukses atau pun gagal dalam masyarakat kita hari ini cenderung kehilangan kendali dalam bersikap. Ketika tidak lolos, collapse atau gagal serta merta melakukan tindakan bunuh diri karena depresi dan stress. Namun ketika berhasil pun sama tak bisa bersyukur atas kesuksean yang diraih. Sikap sombong dan lupa diri segera menghinggapi para pemenang baik dalam bisnis, studi atau politik. Padahal al-Qur’an telah mewanti-wanti agar kita bersikap wajar dan bijaksana baik tatkala suka maupun duka. Sebab bagi seorang mukmin semuanya atas izin Allah. Dia memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. “Agar kamu tidak putus asa atas sesuatu yang hilang darimu dan tak sombong dengan sesuatu yang kamu peroleh.”
Menurut sebab turunnya, ayat ini berkenaan dengan perang Hunain. Pada perang tersebut jumlah kaum mukminin cukup besar dan senjatanya lengkap. Namun kebanggaan fasilitas itu tidak menjadikan mereka tawadhu dan tawakal kepada Allah Swt. Allah Swt. menguji iman mereka. Pasukan tersebut diterjang pasukan orang-orang kafir secara mendadak di bukit-bukit yang menghimpit dan mempersulit gerak kaum muslimin. Kaum muslimin bersedih karena menanggung banyak kerugian baik materiil mapun moril. Namun ada pelajaran yang berharga dari semua itu yakni jangan melupakan Allah Yang Maha Kuasa.
Sikap terbaik bagi seorang mukmin jika ia mendapat anugerah dan nikmat ia senantiasa bersyukur. Sedangkan jika mendapat ujian dan cobaan ia tetap memelihara imannya dengan bersabar. Sabar dan syukur ini merupakan stabilisator agar kita tidak menyikapi hidup secara emosional. Hidup secara emosional pada hakekatnya mengikuti hawa nafsu karena tak menghiraukan bisikan hati yang bercahaya (nurani). Dan Pola hidup yang mengikuti hawa nafsu inilah yang diistilahkan dengan jahiliyah (tunduk pada cengkaraman hawa nafsu dan emosi tanpa mengindahkan akal sehat).
Para pelajar yang baru selesai mengikuti hari terakhir UN, meskipun belum tentu lulus secara ekspresif berpawai ria dengan seragam yang telah penuh dicorat-coret philox dan tanda tangan. Mereka tak pernah berpikir bahwa di antara anak-anak seusia mereka ada yang membutuhkan seragam bekas. Terutama anak-anak yang tidak mampu.
Para caleg yang gagal jika tidak bunuh diri, mereka segera mengambil bantuan yang telah diberikan kepada masyarakat. Maka wajah semu kedermawan pun terkuak. Mereka memberi karena mengaharapkan sesuatu. Memberi mengharap imbalan.
Sebagian yang lain, karena terlilit utang dan gagal menjadi wakil rakyat memilih menghabisi perjuangan mereka di seutas tali atau sebotol racun. Menurut Shopenhauer, orang yang bunuh diri adalah orang yang tidak jujur karena keinginan sebenarnya ialah terus hidup dengan tercapainya hasrat dan keinginan mereka. Namun karena tidak kesampaian, mereka menutupi keinginan hidup dengan kematian. Dengan kata lain mereka tidak ksatria atas takdir yang digariskan, tak berpasrah kepada Allah Swt. atas nasib yang dialami. Secara tak langsung ia hendak “melampaui” Yang Maha Kuasa yang telah menentukan ajalnya.
Salah satu tips yang diajukan David Richo agar kita bisa menghadapi masa-masa sulit adalah dengan menerima hidup kita seutuhnya. Dalam makna seutuhnya kita mengakui keterbatasan, ketidakberdayaan, dan kekurangan kita. Kita bukan penguasa di jagat raya. Kita hanya bisa berusaha. Kita memperjuangkan segala sesuatu dengan proses. Kita beda dengan Yang Maha Kuasa yang jika menghendaki sesuatu tinggalkan memfirmankan Kun Fayakun.
Sikap menerima hidup kita seutuhnya adalah makna sejati islam. Islam bermakna penyerahan diri. Ketika kita mendapat jabatan, anugerah dan kejayaan kita serahkan bahwa semua itu karena izin-Nya. Begitu juga tatkala musibah dan bencana meninmpa kita. Kita tidak lupa bertawakal dan berserah diri padanya. Dengan konsep penerimaan diri kita seutuhnya termasuk segala cela dan kecacatannya kita bersifat gentle dalam hidup. Dengan ketegaran ini hidup kita akan bahagia dan nyaman. Karena rasa sakit, stress dan depresi biasanya lahir dari berbagai penyangkalan dan penolakan diri dari berbagai kenyataan yang menimpa kita. Ada sebuah kisah menarik tentang sikap menerima hidup seutuhnya.
Al-Madaini meriwayatkan bahwa tatkala ia berthawaf di masjidil haram, ia melihat seorang perempuan yang wajahnya ceria dan berseri-seri. Saking terpesonanya, ia bergumam,” Belum pernah sebelumnya ia bertemu perempuan yang seceria dan sebahagia dia. Pastilah dia orang senang dan terpandang.”
Singkat cerita ia saling menyapa dan akhirnya perempuan itu berterus terang bahwa ia sebenarnya tak seindah yang ia bayangkan. Sebenarnya ia pernah mengalami masa-masa sulit yang dahsyat tak terperi. “Dulu aku mempunyai seorang suami dan dua anak. Pada acara hari raya suamiku menyembelih kambing. Dua anaknya bermain-main di halaman. Tanpa sepengetahuan ayahnya. Mereka meniru cara menyembelih kambing.
Si Sulung berkata kepada adiknya,”maukah kau aku tunjukkan bagaimana ayahmu menyembelih kambing?” Adiknya dibaringkan dan segera disembelih.. Melihat darah adiknya berceceran, ia di merasa kaget dan takut. Ia segera lari bersembunyi ke hutan. Malang, ia malah disantap serigala. Ayahnya mencari ke hutan berhari-hari namun nihil. Karena sedih bercampur dengan rasa lapar dan haus ia pun meninggal.
Aku hidup menyendiri selama bertahun-tahun. Sungguh itulah titik nadir dalam hidupku? Mendengar cerita dukanya al-Madaini terperanjat. “ bagaimana kamu bisa bersabar atas semua peristiwa yang kamu alami?” Jika aku terus mengenang masa-masa sulit itu, tentu aku depresi. Namun aku menganggap semua peristiwa masa laluku sebagai luka yang telah mengering.” Itulah contoh pribadi tangguh yang mampu menerima hidup seutuhnya dan berserah diri kepada Allah. Wa Allahu A’lamu bi al-Shawab.

(Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah [STAIM] Bandung, Pengurus Rumah Dakwah dan Pengembangan Keagamaan [RDPK] Mujahidin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar