Oleh : R. Fatoni.
Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 09 <06 Maret 2009>
"Sehingga orang kaya yang baik adalah orang kaya yang suka berderma (ghaniyyun kariimun), yang memberikan harta terbaik yang ia miliki (ghaniyyun hamiidun) dan yang tetap rendah hati dan menjaga perasaan orang yang diberi derma (ghaniyyun haliimun)."
Apakah Anda merasa termasuk orang yang dianugerahi oleh Allah dengan kelebihan harta? Kalau ya, maka ada baiknya anda belajar menjadi orang kaya yang baik, sebab kekayaan sesungguhnya adalah bagian dari ujian yang Allah berikan kepada kita. Kalau tidak, ada baiknya juga belajar, sehingga kelak ketika anda menjadi orang kaya, anda telah siap untuk menjadi orang kaya yang baik. Bagaimana ciri orang kaya yang baik? Tirulah sifat - sifat Allah yang Allah tegaskan di dalam AlQur’an.
Ketika Allah menyebut sifat beliau yang kaya, ghaniyyun, Allah swt mengikutinya dengan 3 sifat yang lain: ghaniyyun kariimun (QS: 27;40), ghaniyyun hamiidun (QS: 2;267) dan ghaniyyun haliimun (QS: 2;263).
Kaya yang pertama adalah ghaniyyun kariimun. Kata kariimun berarti murah hati, dermawan, mulia, terhormat. Lawan kata kariimun adalah bakhiilun (pelit). Sehingga ghaniyyun kariimun berarti kaya yang pemurah, kaya yang dermawan. Orang kaya yang baik adalah orang kaya yang suka memberikan sebagian kekayaannya kepada orang lain, yang tidak pelit dalam berderma.
Kata kariimun sendiri sebenarnya memiliki makna yang lebih dalam. Penggalan ayat 40 dari surat An-Naml ini berbunyi: ”Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana (milik ratu Bilqis) tiba tiba muncul dihadapannya, ia berkata: ” ini adalah sebagian dari karunia Pemeliharaku, untuk mengujiku: apakah aku akan mensyukurinya ataukah aku akan mengingkarinya. Barangsiapa yang bersyukur sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya, dan barang siapa ingkar maka sesungguhnya Pemeliharaku kaya lagi pemurah”
Ayat ini menegaskan bahwa karunia yang Allah berikan kepada manusia, baik berupa harta kekayaan atau ilmu pengetahuan, adalah ujian dari Allah: apakah manusia tersebut akan berterima kasih atas karunia yang telah ia terima dengan pengakuan bahwa karunia itu ia peroleh karena kemurahan Allah; ataukah ia akan mengingkari karunia tersebut dengan menafikan ”peran” Allah sama sekali.
Tetapi sesungguhnya kemurahan Allah adalah kemurahan yang ”searah”, kemurahan yang tidak mengharapkan balasan. Maka ketika seorang hamba bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah Ia berikan, syukur itu tidaklah menambah sedikitpun keagungan Allah. Justru sebaliknya, syukur itu akan kembali kepada hamba tersebut dalam bentuk kebaikan - kebaikan lain yang akan ia terima, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Demikian pula ketika seseorang tidak mengakui dan tidak berterima kasih kepada Allah atas karunia yang ia peroleh, kekufurannya itu tidaklah mengurangi keagungan Allah sedikit pun. Allah juga tidak lantas murka dan mencabut atau menghentikan karunia yang Ia berikan kepadanya. Inilah makna kaya yang pemurah, ghaniyyun kariimun. Allah itu maha kaya, pemurah, dan sifat pemurahNya ini adalah pemurah karena diriNya memang pemurah. Ia tetap pemurah, meskipun yang diberi tidak mau mengakui dan tidak sudi berterima kasih atas kemurahan itu.
Ada tauladan yang tepat untuk kaya yang pemurah ini. Kejadian ini terkait dengan kisah ”hadiitsul ifki” yang menimpa Aisyah rha. Suatu ketika, sepulang dari perang Bani Mushthaliq dimana Aisyah berkesempatan turut serta menyertai Rasulullah SAW, karena sesuatu hal, Aisyah tertinggal dari rombongan Rasulullah SAW. Kebetulan waktu itu juga ada seorang sahabat yang tertinggal, dan mendapati Aisyah sendirian. Kemudian akhirnya Aisyah dengan ditemani sahabat tersebut, Shafwan ibnu Mu’aththal, melanjutkan perjalanan menyusul rombongan Rasulullah SAW. Oleh orang - orang munafiq, kejadian ini di-blow up dan beredarlah isyu isyu yang memojokkan Aisyah dan Sahabat tersebut. Saking derasnya isyu tersebut hingga membuat Rasulullah SAW sedikit banyak terpengaruh hingga kemudian Allah swt ”menegur” beliau dengan menurunkan wahyu yang ”membersihkan nama” Aisyah dan mencela orang - orang yang menanggapi berita yang tidak jelas sumbernya dan hanya berdasarkan prasangka belaka itu. (QS: Annur, 11 – 20).
Di antara orang - orang yang terpengaruh dan ikut ikutan mem-blow up isyu tersebut adalah seseorang yang selama ini hidupnya ditanggung oleh Abu Bakar As-shiddiq, sahabat kenamaan sekaligus ayah Aisyah rha. Setelah isyu itu reda dengan turunnya wahyu surat An-Nuur tersebut, Abu Bakar berniat bahkan bersumpah hendak menghentikan pemberian harta yang selama ini ia berikan kepadanya.
Atas sumpah Abu Bakar inilah kemudian turun ayat selanjutnya, ayat 21 yang secara tegas melarang orang-orang beriman yang diberi kelapangan harta oleh Allah menghentikan kebaikan derma mereka kepada orang - orang yang melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan hati penderma.
”Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka [tidak] akan memberi [bantuan] kepada kaum kerabat [nya], orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Meskipun menyiarkan berita bohong itu sendiri juga merupakan perbuatan terkutuk yang pantas mendapat hukuman di dunia dan di akhirat,(ayat 22-25) tetapi menghentikan kebaikan derma kepada mereka bukanlah merupakan bagian dari hukuman yang pantas mereka terima; hukuman bagi orang yang menuduh orang berzina adalah dicambuk 80 kali. Menghentikan kebaikan derma yang selama ini dilakukan kepada mereka sesunguhnya hanyalah merupakan sebuah perbuatan buruk yang lain yang tidak pantas dilakukan oleh orang beriman.
Inilah ghaniyyun kariimun, kaya yang pemurah, yang tetap istiqamah dalam memberi derma, bahkan meskipun ketika orang–orang yang diberi derma membalas dengan perbuatan yang tidak menyenangkan para pemberi derma. (bersambung)
(Penulis, Jamaah Milis muhammadiyah Society)
Sabtu, Maret 14, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar