Oleh: Jamjam Erawan
Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 12 <27 Maret 2009>
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al Ahzab [33]: 21).
Setiap kali memasuki bulan Rabi’ul Awwal. Kaum muslimin diingatkan akan hari kelahiran manusia agung yang bernama Muhammad. Karena pada bulan inilah beliau dilahirkan, tepatnya pada minggu kedua bulan Rabi’ul Awwal Tahun Gajah atau bulan April 580 masehi di kota Mekkah.
Kehidupan Muhammad Saw. sejak kecil hingga akhir hayatnya telah menunjukkan suri tauladan baik yang harus diikuti dan dicontoh oleh setiap manusia sepanjang masa. Inilah makna terpenting yang harus diambil setiap kali kita bertemu dengan bulan ketiga dalam penanggalan hijriyah ini.
Dalam keyakinannya, Muhammad Saw. memiliki keyakinan yang sangat teguh, laa ilahaa illallaah; tiada Tuhan selain Allah. Dari doktrin ini Muhammad Saw. Meyakini bahwa tidak ada pencipta selain Allah Swt., tidak ada yang memberi rezeki selain Allah Swt., tidak ada yang memberi manfaat dan madharat selain Allah Swt., tidak ada yang mengatur alam semesta ini selain Allah Swt., tidak ada yang menjadi pelindung selain Allah Swt., tidak ada yang berhak menentukan hukum selain Allah Swt., tidak ada yang berhak memerintah dan melarang selain Allah Swt., tidak ada yang berhak menentukan undang-undang selain Allah Swt., tidak ada yang ditaati selain Allah Swt., dan tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt.
Dalam kehidupan peribadatannya, Muhammad Saw. senantiasa beribadah bukan hanya melaksanakan suatu peribadatan yang fardhu-formal saja, tetapi juga melakukan hal-hal yang nafilah, yaitu ibadah-ibadah tambahan. Salatnya Muhammad Saw. bukan hanya salat yang lima waktu secara teratur, tertib dan tepat waktu, tetapi juga disempurnakan dengan salat rawatib, salat malam/tahajjud, dan sesekali salat dhuha.
Begitupun saum Muhammad Saw., bukan hanya saum wajib di bulan ramadan, tetapi juga saum senin kamis maupun saum Daud (sehari saum, sehari buka). Zakatnya Muhammad Saw. telah disempurnakan dengan melaksanakan infaq, shadaqah dan wakaf sebagai ibadah maaliyah yang akan memberikan manfaat bagi manusia lain. Tidak lupa ibadah hajinya Muhammad Saw., bukan hanya ibadah ritual yang sekadar menjalankan teks-teks manasiknya saja, tetapi juga diwujudkan dalam filosofi kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari ibadah-ibadah ritual formal itu telah melahirkan kehidupan yang harmonis, dinamis dan egaliter.
Dalam kepribadiannya, Muhammad Saw. adalah sosok yang tenang dan tenteram, gagah berani, namun memiliki senyuman yang memikat, simpatik, ramah, sopan dan santun. Bahkan dalam hal-hal tertentu, Muhammad Saw. lebih pemalu daripada gadis-gadis pingitan, kemampuan intelektualnya tidak diragukan, daya imajinasinya sangat tinggi, dan ekspresinya sangat dalam. Muhammad Saw. dikenal sebagai seniman bahasa di kalangan para sastrawan. Di atas semuanya, pengabdiannya pada Allah Swt. serta keyakinan akan kehadiran-Nya tidak pernah terabaikan.
Dalam tata pergaulannya, Muhammad Saw. adalah pribadi yang memiliki akhlak luhur. Berperilaku lemah lembut, pemaaf, bermusyawarah, memohonkan ampun untuk orang lain. Sangat hormat pada orang yang usianya lebih tua, sangat sayang pada mereka yang usianya lebih muda. Diulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tidak dilepasnya sebelum yang dijabat tangannya belum melepaskannya. Muhammad Saw. tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan teman-temannya yang sedang duduk. Menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya. Berbicara perlahan dengan menggunakan dialek mitra bicaranya sambil sesekali mengigit bibirnya. Menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk dengan jari telunjuk ke telapak tangan kanannya.
Dalam kehidupan rumahtangganya, Muhammad Saw. sangat memuliakan dan melayani keperluan istrinya, seperti memasak, menyapu, melap lantai, menyalakan api, memeras susu dan membersihkan pakaian. Muhammad Saw. memanggil istrinya dengan panggilan yang baik dan menyenangkan. Panggilan itu umpamanya, Ya Humaira, wahai wanita yang kemerah-merahan lagi cantik nan menawan.
Setelah Muhammad Saw. meninggal dunia, ada beberapa orang menemui Siti ’Aisyah memintanya agar menceritakan perilaku suaminya. ’Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu. Air matanya berderai. Kemudian dengan nafas yang panjang, ia berkata, “kana kullu amrihi ’ajaba; ah semua perilaku Muhammad itu sangat indah.” Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Muhammad Saw. yang paling mempesona, ’Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Muhammad yang mulia bangun di tengah malam dan minta izin kepada ’Aisyah untuk salat malam. “Izinkan aku menyembah Tuhanku”, ujar Muhammad kepada ’Aisyah. Bayangkan, sampai untuk salat malam saja diperlukan izin istrinya. Di situ berhimpun kemesraan, keharmonisan, kesucian kesetiaan dan penghormatan.
Dalam penggunaan hartanya, Muhammad Saw. menggunakan harta yang paling mewah adalah sepasang alas kaki berwarna kuning yang merupakan hadiah dari Negus asal Abissinia. Muhammad Saw. tinggal di satu pondok kecil beratapkan jerami yang tingginya dapat dijangkau oleh seorang remaja. Kamar-kamarnya dipisahkan oleh batang-batang pohon yang direkat dengan lumpur bercampur kapur. Santapannya yang paling mewah, meskipun jarang dinikmati adalah madu, susu dan lengan kambing. Padahal keadaan beliau saat itu telah menguasai seluruh Jazirah Arab.
Dalam kehidupan bisnisnya, Muhammad Saw. menjalankan profesi dagangnya dilandasi dengan niat yang tulus sebagai bagian dari ibadah kepada Allah, berpedoman pada al Quran dan al Sunnah. Beliau melakukan jual belinya yang halal dengan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, musyawarah, tepat janji, tercatat dengan rapi, dan tidak lupa menyerahkan hak-hak Allah Saw. yang harus diberikan kepada orang-orang yang berhaknya, seperti zakat, infaq dan shadaqah.
Dalam interaksi dengan flora, fauna dan alam lingkungannya, Muhammad Saw. mengajarkan untuk senantiasa menyayangi binatang. Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya. Seorang wanita dimasukkan Allah Swt. ke neraka karena mengurung seekor kucing. Tidak diberinya makan dan juga tidak dilepaskan untuk mencari makan sendiri. Sementara itu, seorang yang bergelimang dosa diampuni Allah Swt. karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Muhammad Saw. pun tidak mengenal istilah menundukkan alam, karena istilah ini dapat mengantarkan manusia kepada sikap arogan, sewenang-wenang, dan penumpukkan tanpa batas pertimbangan pada asas kebutuhan yang diperlukan.
Dalam aktivitas kehidupan politiknya, Muhammad Saw. menjadikan kiprah politik sebagai media dakwah; menyeru umat manusia untuk menyembah Allah Swt. dan taat kepada-Nya, bukan untuk merebut kepemimpinan sebagai kepala negara. Kalau dalam kenyataan akhirnya Muhammad menjadi kepala negara –yang tak hanya disegani rakyat di jazirah Arab saat itu, tetapi juga disegani dua kekuatan super power pada zamannya, yaitu Romawi dan Persia— tugas suci berdakwah ini tak lepas darinya. Muhammad Saw. tidak pernah putus asa untuk terus meyelamatkan manusia dari kesesatan dan membawa mereka pada kebahagiaan dunia akhirat.
Proses dakwah ini membawa beliau kepada kehidupan yang penuh liku-liku, tantangan dan ujian silih berganti. Berbagai penganiayaan beliau hadapi, seperti dihina, disakiti, diusir dari kampung halaman, dilempari kotoran, hendak dibunuh, diperangi dan lain sebagainya. Bahkan beliau pernah dirayu, diiming-imingi dengan harta, tahta dan wanita asal beliau mau menghentikan dakwahnya. Tapi Muhammad Saw. tetap konsisten menjalankan tugas suci ini dengan santun sambil tetap berlindung kepada Allah Yang Maha Kuasa. Wallahu’alam bi al haq.
(Penulis, Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat dan Kepala Bidang Pelayanan dan Pembina Rohani RS Muhammadiyah Bandung)
Rabu, Maret 25, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar