Rabu, Maret 25, 2009

KETELADANAN PEMIMPIN

Oleh : Dachlan Ramli
(Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 11 <20 Maret 2009>

Suatu aktivitas yang melibatkan orang banyak, sangat bergantung pada pemimpin yang memandu gerak langkah sebuah komunitas. Dan keteladanan merupakan ruh kepemimpinan dalam suatu aktivitas. Ruh kepemimpinan adalah ilmu yang menjadi hidayah tentang cara memimpin atau mempengaruhi orang lain dalam bekerjasama untuk mencapai tujuan yang diridai Allah Swt.
Dalam kaitan dengan kualitas kepemimpinan, Rasulullah Saw, bersabda, “Sesungguhnya kualitas umat itu sangat baik, dan kelemahan umat itu terletak pada kendali pemimpin”. Oleh karena itu kita jangan “bermain-main” atau coba-coba dengan menyerahkan jabatan kepemimpinan itu kepada yang bukan ahlinya atau kepada yang tidak memiliki kepatutan menjabat dalam suatu urusan. Apabila hal itu terjadi maka akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran tatanan kehidupan. Sabda Rasulullah Saw., “Apabila menyerahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya (tidak patut), maka tunggulah kehancurannya”. (HR al Bukhari).
Manusia adalah mereka yang berfungsi sebagai ‘abd (hamba). Sejatinya mereka cenderung mengabdikan dirinya hanya kepada Allah Swt. Selain itu, manusia juga berperan sebagai khalifah (pemimpin), cenderung mengayomi, mengasihi dan menyayangi bawahan atau yang dipimpinnya. Hubungan yang serasi antara diri dengan yang dipimpinnya selalu dijaga dan dipelihara supaya tetap seimbang (adil). Mereka senantiasa menjadikan Allah Swt. sebagai sumber dan tujuan aktivitasnya karena itu saat melakukan aktifitas selalu diawali bismillah (yang dilakukannya hanya atas nama Allah Swt) dan diakhiri dengan alhamdulillah (sebagai wujud kepasrahan dalam meraih tujuan hanya mencari keridlaan Allah Swt).
Terkait dengan keteladanan pemimpin, dalam literatur bahasa Arab ada beberapa istilah yang menunjukkan kata pemimpin. Apabila dicermati, akan ditemukan karakter kata itu yang menuntut pelakunya atau pemimpin tersebut memiliki karakter seperti makna yang terkandung dalam kata tersebut. Istilah tersebut adalah, pertama pemimpin disebut imam (al imaamu), seperti tercantum dalam surat al Baqarah [2]: 124; (Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia). Kata imam dalam ayat ini diartikan sebagai pemimpin atau teladan bagi semua manusia.
Sebagai contoh, Nabi Ibrahim ditetapkan menjadi seorang pemimpin dan teladan bagi semua manusia dengan kemajemukannya, baik sebagai rasul maupun sebagai manusia biasa. Secara kebahasaan al imaamu serumpun dengan kata al ummu yang berarti ibu atau induk. Kata tersebut melambangkan sosok seorang pengayom dan pelindung dalam sebuah komunitas manusia atau dalam rumahtangga misalnya. Dengan keberadaan seorang ibu, maka anak-anak dan semua anggota keluarga akan merasa terlindungi hak-haknya. Mereka akan merasa nyaman, tentram dan damai di dalam rumahtangga.
Kata al imaamu juga menjadi predikat atau sebutan bagi seseorang yang sedang memimpin salat berjamaah. Dia harus selalu berada di depan dan gerakannya harus diikuti oleh jamaah. Bukan imam kalau dia berada di belakang. Dengan demikian, seorang imam (pemimpin) harus selalu memberi contoh dan teladan bagi jamaah atau yang dipimpinnya. Jika orang yang dipimpinnya merasa tidak nyaman, resah dan gelisah maka sang pemimpin perlu segera introspeksi dan mawas diri, barangkali ada sesuatu yang tidak beres dalam perjalanan kepemimpinannya, (lihat QS. 17: 71 dan 25: 74).
Kedua; pemimpin disebut raa’in (pemelihara, gembala), sebagaimana dalam sebuah hadis Rasulullah Saw., sabdanya, ”Setiap kamu adalah pemimpin”, dan juga firman Allah Swt. dalam QS. al Mukminun [23]: 8; QS. Al Ma’aarij [70]: 32; “Terhadap amanat-amanat mereka dan perjanjian mereka adalah pemelihara-pemeliharanya”. Kata raa’uun dalam ayat-ayat tersebut terambil dari kata ra’aya, artinya menggembalakan, mengatur, memimpin, menjaga, mengamati, memperhatikan terhadap sesuatu sehingga tidak rusak, sia-sia atau terbengkalai dengan jalan memelihara dan memperbaikinya.
Dari akar kata yang sama, lahirlah kata raa’iy, yakni penggembala, pemimpin, pembimbing. Karena yang bersangkutan itu sebagai yang melakukan pengamatan, penjagaan dan pemeliharaan maka yang diamati, dijaga, dan dipelihara itu pasti tidak akan mengalami bencana dan kerusakan. Bahkan, akan menjadi lebih baik dan berkualitas. Lalu, kata raa’uun pada ayat itu dikaitkan dengan amanat dan janji. Artinya bahwa pelakunya benar-benar aktif dan rajin memimpin, memberi perhatian dan berusaha memenuhi kebutuhan obyek yang dipimpinnya. Apabila hal seperti itu disadari, kemungkinan pemimpin untuk berkhianat terhadap amanat yang telah dipercayakan itu sangat tipis, insya Allah.
Ketiga; pemimpin disebut juga khaliifah (khalifah, pengganti). Seperti firman Allah Swt.: “Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah penguasa di muka bumi.” (QS. Shad [38]: 26). Kata khaliifah artinya penguasa, berasal dari akar kata khalafa, artinya menggantikan, menjadi pengganti, mengambil, menjemput. Berdasarkan suatu riwayat, pada masa Nabi Dawud a.s., terjadi suatu peperangan antara dua kubu penguasa besar, yakni Thalut dan Jalut. Dawud adalah salah seorang anggota pasukan Thalut. Kepandaiannya menggunakan ketapel mengantarkan beliau berhasil membunuh Jalut, lalu beliau meninggalkan Thalut. Kemudian Allah mengangkatnya sebagai khalifah yang memimpin wilayah Palestina dan sekitarnya menggantikan pemerintahan Thalut (Dawud memerintah antara 947-1000 SM). Dari riwayat ini kita dapat memahaminya bahwa kata khalifah itu berarti penguasa baru yang datang menggantikan penguasa sebelumnya.
Sifat-sifat kepeminpinan itu yang semsetinya dimiliki para pemimpin masa depan. Apapun kebaikan yang kita harapkan itu pasti tidak akan didapat jika di antara para pemimpin kita tidak ada keinginan untuk berubah. Selain para pemimpin yang harus berkemauan untuk berubah, juga sifat dan moralitas semua yang dipimpinnya juga harus berubah. Hal ini menjadi penting karena bila kita merasa betah dipimpin oleh mereka yang tidak bermoral, jangan-jangan kita pun termasuk kelompok yang tidak bermoral pula atau pendukung kebusukan.
Satu diantara persoalan besar kaum muslimin saat ini adalah kesulitan dalam melaksanakan perubahan ke arah yang lebih baik. Padahal, banyak cara dan usaha untuk melakukan perubahan, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Pertanyaannya, siapa yang harus memulai dan kapan waktunya melaksanakan perubahan itu? Jawabannya adalah, harus dimulai dari diri kita sendiri, tidak usah menunjuk atau menunggu orang lain untuk berubah. Rasulullah bersabda, ”Mulailah dari dirimu sendiri”. Lalu kapan? Ya, harus sejak sekarang, tidak menunggu hari esok. Pepatah Arab mengatakan, “janganlah kamu menunda pekerjaan hari ini sampai hari esok”. Sedangkan hari esok pekerjaan lain sudah menunggu.
Rasulullah Saw. Merupakan pemimpin yang berhasil dalam mengaktualisasikan pola kepemimpinannya yang Islami sejak sebelum mendapat gelar “al amiin” (orang yang dapat dipercaya). Segala aktivitasnya menjadi penting untuk kita kaji, dipelajari, lalu kita laksanakan. Beliau uswah hasanah (teladan yang baik) untuk kita tiru. Beliau sosok yang memiliki kompetensi substantif dan kompetensi metodologis dalam memimpin bangsanya yang beraneka ragam. Prinsip dasar keberhasilan beliau dalam memimpin bangsa adalah karena beliau memerankan amal saleh sebagai program kerjanya atau mengedepankan keteladanan. Seperti firman Allah Swt. “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah adz Dzikr (Taurat) bahwa bumi dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh”. (QS. al Anbiya [21]: 105).
Melalui ayat itu, Allah Swt. memberitahukan baik dalam Kitab Taurat maupun Zabur, bahwa bumi ini akan dipusakai atau akan dipimpin oleh hamba-hamba yang mantap kesalehannya dengan mengamalkan tuntunan Allah Swt. dan Rasul-Nya. Begitu pula hal tersebut diberitahukan dalam al Quran. Kalau saat ini dunia masih dikuasai dan dipimpin orang-orang yang suka berkhianat terhadap janjinya, hendaknya jangan terlalu khawatir, karena apabila ada usaha yang sungguh-sungguh dari semua pihak disertai dengan selalu beramal saleh dan memohon campur tangan Allah Swt., maka bumi ini mesti akan dipusakai seperti janji-Nya.
Setiap saat masyarakat selalu mengharapkan munculnya pemimpin yang memiliki komitmen terhadap keteladanan dan amal saleh. Untuk meraih cita-cita itu maka dibutuhkan pemimpin yang memiliki hal-hal berikut ini. Pertama, mereka yang berkarakter membangun dengan nurani untuk memakmurkan bumi ini. Firman Allah Swt., “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya”. (QS. Hud [11]: 61). Kedua; mereka yang mampu melihat inti persoalan lingkungan sosial dan membebaskan belenggu kebodohan, kemiskinan, kegelapan yang mengikat dan menghantuinya (lihat QS. ath Thalaq [65]: 11). Ketiga, mereka yang benar-benar menyadari bahwa tugas yang dipikulnya itu adalah amanah yang wajib ditunaikan sesuai dengan tuntutan ajaran Islam.

(Penulis, Imam Masjid Raya Mujahidin, Jl. Sancang No. 6, Bandung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar