
Oleh: M.I. Zainuddin
Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 08 <27 Februari 2009>
Sesungguhnya tauhid yang murni dan bersih adalah inti ajaran dari semua risalah samawiyah yang diturunkan Allah Swt. Ia adalah tiang penopang yang menegakkan bangunan Islam. Ia adalah syiar Islam yang terbesar yang tak dapat terpisahkan dari Islam itu sendiri. Inilah pesan utama Allah Swt. kepada Rasul-Nya yang diutus kepada umat manusia. “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (untuk menyampaikan): Sembahlah (oleh kalian) akan Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl [16]: 36).
Itulah misi utama para Rasul; menegakkan penyembahan dan penghambaan hanya kepada Allah Swt. serta menafikan dan menjauhi segala bentuk thaghut. Dan yang dimaksud dengan thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas-batas yang seharusnya tak boleh ia langgar, baik berupa sesembahan, panutan dan ikutan. Sehingga thaghut setiap kaum/komunitas adalah siapapun yang mereka jadikan sumber dasar hukum selain Allah dan Rasul-Nya.
“Tidakkah engkau melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu, (padahal) mereka ingin bertahkim (mengambil hukum) dari thaghut padahal sungguh mereka telah diperintah untuk kafir kepadanya.” (an-Nisa [4]: 60).
Kedua unsur penting inilah yang terangkai dalam kalimat suci La ilaha illallah; tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Di atas kalimat Tauhid yang murni dan mulia itu Rasulullah Saw. membangun umatnya. Di atas landasan yang kokoh itulah beliau menegakkan dakwah. Dari situlah beliau menegakkan generasi yang hanya meng-Esa-kan Allah Yang Maha Esa dan membebaskan diri mereka dari cengkraman makhluk-makhluk lain yang dianggap sekutu bagi Allah Swt.
Ketika seorang Muwahhid mengucapkan dan melantunkan kalimat Tauhid itu, maka seharusnya ia meyakini dua hal yang menjadi tujuan dari kalimat suci tersebut. Apa dua tujuan itu? Tujuan pertama adalah menegakkan yang haq dan membersihkan yang bathil. Sebab makna yang sesungguhnya dari kalimat laa ilaha Illallaah itu adalah tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah. Sehingga segala sesuatu selain Allah adalah bathil dan tidak berhak mendapatkan hak-hak ilahiyyah (hak-hak untuk disembah).
Kita dapat melihat bagaimana Rasulullah Saw. membersihkan Jazirah Arab dari kotoran-kotoran dan kekuasaan thaghut dan patung-patung persembahan. Ingatlah bagaimana batu besar saat itu yang bernama Hubal yang dikelilingi 360 berhala dihancurkan oleh Rasulullah Saw. dengan tangan beliau yang mulia pada saat memasuki kota Mekah dengan penuh kemenangan. Semua itu dilakukan beliau seraya mengulang firman Allah Swt.: “Dan Katakanlah (wahai Muhammad) telah datang al-Haq dan hancurlah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil itu pasti hancur.” (Al-Isra’ [17]: 81).
Tujuan kedua adalah untuk mengatur dan meluruskan perilaku manusia agar selalu dalam lingkaran Tauhid yang murni kepada Allah Swt. yang terpancar dari kalimat Tauhid. Agar semua tindakan manusia itu dilandasi oleh keyakinan bahwa Allah Swt. satu-satunya Tuhan Yang Maha Kuasa.
Agar kalimat Tauhid itu dapat “berhasil guna” dalam mengatur perilaku manusia maka ada tujuh syarat yang harus dipenuhi. Pertama, al-’ilm (mengetahui) maknanya yang benar. Kedua, al-yaqin (meyakini) kandungan-Nya tanpa ada keraguan. Ketiga, al-ikhlas (ikhlas) tanpa ternodai oleh syirik. Keempat, ash-shidq (membenarkan) tanpa mendustakannya. Kelima, al-qabul (menerimanya) dengan penuh kerelaan tanpa menolaknya. Keenam, tunduk pada konsekwensi kalimat Tauhid (al-inqiyad), dan ketujuh semua itu harus dilandasi dengan al-mahabbah (cinta) kepada Allah Swt.
Bila ketujuh syarat tersebut telah terpenuhi maka insya Allah seluruh ibadah dan amal kita akan selalu terhiasi dan diterangi oleh kemurnian Tauhid. Dengan demikian, semuanya dikerjakan hanya karena Allah Swt., tidak ada lagi permintaan tolong selain kepada Allah, tidak ada lagi tawakkal kecuali kepada Allah, tidak ada lagi pengharapan dan rasa takut selain kepada Allah, tidak ada lagi kekuatan selain pertolongan Allah.
Dari sini jelas, perbedaan yang sangat jauh antara seorang Muwahhid dengan seorang musyrik. Seorang muwahhid adalah orang yang mengetahui Dzat yang menciptakannya sehingga ia pun beribadah dan menghamba pada-Nya dengan sebenar-benarnya. Sebaliknya seorang musyrik adalah orang yang buta mata hatinya, kehilangan arah dan jauh meninggalkan Dzat yang melimpahkan nikmat padanya. Na’udzu billah min dzalik.
Sejak dahulu hingga sekarang, begitu banyak manusia yang tersesatkan oleh keyakinan berbilang “tuhan” yang disembah, yang dapat dimintai pertolongan, yang dapat dijadikan sumber hukum dan yang berhak mendapatkan kekhususan ilahiyah. Keyakinan ini adalah sebuah kesesatan nyata yang telah diperangi oleh Islam dengan keras. Sehingga tidaklah mengherankan bila Tauhid yang murni kemudian menjadi syiar terpenting Islam yang selalu ada dalam aspek itikad dan amaliyah. Dengan syiar ini Islam dikenal bahkan karenanya Islam diperangi.
Sesungguhnya kemunduran dan musibah-musibah yang selama ini menimpa umat Islam adalah disebabkan mereka tidak lagi memperhatikan syiar yang penting ini. Lemahnya ikatan tauhid dalam jiwa-jiwa mereka adalah sebab utama dari berbagai kekalahan kaum muslimin dan kemenangan musuh-musuh mereka yang kita saksikan dalam kurun waktu yang cukup lama. Banyak di antara kaum muslimin yang tenggelam dalam kebodohan terhadap tauhid ini, sehingga mereka mendatangi penghuni-penghuni kubur, berdoa didepan batu-batu nisannya, meminta pertolongan penghuninya saat susah dan sedih. Bahkan lebih dari itu, seringkali mereka memuji dan mengagungkan panghuni kubur itu dengan ungkapan-ungkapan yang hanya pantas diberikan kepada Allah Swt.
Karena lemahnya keyakinan akan pertolongan Allah, banyak di antara kaum muslimin yang kemudian menggunakan jimat dengan menggantungkan di tubuh mereka karena yakin hal itu akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkannya dari marabahaya. Padahal Allah telah menegaskan: “Dan jika Allah menimpakan musibah atasmu maka tidak ada yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (al-An’am [6]: 17).
Suatu hari Nabi Muhammad Saw. pernah melihat lelaki yang mengenakan jimat di tangannya, lalu beliau berkata: “Cabutlah (benda itu) karena ia hanya akan semakin membuatmu lemah/takut. Karena sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad).
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat) maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Di antara kaum muslimin juga terdapat orang yang terfitnah oleh para tukang sihir dan peramal yang katanya dapat meramal masa depan, padahal Nabi Saw. yang mulia telah menyatakan, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan pada Muhammad.” (HR. Abu Dawwud, An-Nasai, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Semua itu sekedar contoh terhadap model-model kesyirikan yang dilakukan sebagian kaum muslimin. Dalam kenyataan sehari-hari kita akan menemukan model-model lain dari perilaku syirik itu dalam berbagai aspek kehidupan kaum muslimin, yang kemudian disadari atau tidak menyebabkan lemahnya keyakinan mereka terhadap kemahabesaran, kemahakuasaan, kemahaperkasaan Allah Swt. Karena Tauhid mereka lemah, maka merekapun tidak begitu yakin lagi dengan pertolongan Allah, sehingga dengan amat sangat mudahnya musuh-musuh mereka menyebarkan rasa takut lalu mengalahkan mereka. Dengan demikian telah jelaslah, bahwa rahasia kejayaan kaum muslimin terletak pada sejauh mana mereka menegakkan Tauhid yang murni dalam segala kehidupan mereka. Wallahu’alam.
(Penulis, Khatib Jumat dan penulis lepas)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar