Oleh: Rohman Hendrayana
Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 06 <13 Februari 2009>
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran:159)
Baru-baru ini kita dikejutkan aksi anarkis para demonstran di Medan yang berakibat pada meninggalnya ketua DPRD Sumatera Utara, H. Abdul Aziz Angkat. Mereka memaksa masuk ruangan sidang dan merusak fasilitas negara yang ada di sana. Terlepas dari sebaik apa tujuan mereka, tindakan anarkis tetap merupakan tindak kejahatan, apalagi sampai berujung maut. Pada hari berikutnya, di Ambon terjadi perang antardesa yang diwarnai oleh aksi pembacokan serta pembakaran dua rumah warga. Di hari yang sama, 252 pedagang di Cisarua Bogor digusur karena dianggap menjadi penyebab kemacetan di Puncak Bogor.
Kekerasan dan kejahatan merupakan cermin dari rusaknya moralitas bangsa. Masyarakat Islam sebagai penduduk terbesar di negeri ini tentunya memiliki tanggung jawab dan peran penting dalam membangun kembali akhlak bangsa ini. Sayangnya, dalam tubuh ummat Islam sendiri kadang masih terjadi perpecahan yang berujung pada tindak kekerasan.
Oleh karena itu, saat ini perlu menggali kembali nilai-nilai revolusioner kasih sayang dalam teologi Islam sebagaimana termaktub dalam al Quran. Hal ini dilandasi beberapa alasan. Pertama, teologi Islam yang saat ini berkembang di masyarakat telah kehilangan relevansinya dengan konteks sosial yang ada. Padahal, menurut Asghar Ali Engineer, teologi Islam itu seharusnya bersifat kontekstual dan transendental. Kedua, teologi itu pasti mengalami demistified dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Islam. Ketiga, mengembalikan seperti semula komitmen Islam terhadap terciptanya masyarakat yang bebas, penuh kasih sayang, persaudaraan dan egaliter.
Terlepas dari pergumulan teologis-filosofis abad klasik yang sangat melelahkan, suatu hal yang jelas bahwa al Quran secara eksplisit memberikan pedoman bahwa Islam adalah agama kasih sayang. Nabi Muhammad Saw. diutus untuk menebarkan kasih sayang di muka bumi ini, wa mâ arsalnâka illa rahmatan lil ’alamin. Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian total. Oleh sebab itu, Islam harus muncul sebagai kekuatan aktif yang membawa pada terwujudnya kasih sayang dan kedamaian, udkhulû fi silmi kâffah.
Konsep kasih sayang dalam Islam tercermin dalam sifat ar rahman. Pesan moral yang ada di dalamnya adalah cinta. Cinta dalam konteks ini adalah cinta yang bersumber dari hati nurani bukan dari hawa nafsu. Artinya, pesan cinta yang ada dalam ar rahman adalah cinta dalam arti kasih sayang, yang lebih berorientasi kepada nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Jadi konsep teologi ar rahman pada dasarnya adalah usaha mengaktualisasikan ajaran Islam dengan berlandaskan pada nilai-nilai sosial dan kemanusiaan berdasarkan kasih sayang.
Demikian banyak sifat (nama) Tuhan, namun salah satu sifat yang paling dominan adalah sifat ar Rahman. Kata rahman diletakkan pada posisi kedua setelah lafadz Allah dalam asma’ul husna. Dalam hal ini Allah Swt. dalam al Quran menegaskan, “Rahmat-Ku mencakup segala sesuatu”. (QS. al ’Araaf [7]:156). Dalam sebuah hadis qudsi Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya rahmat-Ku mengatasi/mengalahkan amarah-Ku” (HR. Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah). Kemuliaan nama Allah, ar Rahman dalam Al-Quran telah disebut berulang-ulang sebanyak 57 tujuh kali. Bahkan kata ar Rahman diabadikan sebagai salah satu nama yang terdapat dalam al Quran.
Ar Rahman atau kepengasihan Allah Swt. terhadap makhluk tidak memandang tingkat ketaatan makhluk dalam menjalankan perintah-Nya. Sehingga Allah Swt. mengasihi setiap makhluk yang telah diciptakan-Nya secara merata baik itu manusia, hewan, tumbuhan, iblis, malaikat dan makhluk-makhluk yang lainnya.
Sebagai contoh, dengan sifat kepengasihan Allah Swt., seekor induk hewan menyusui anak-anaknya dan membesarkannya. Dengan sifat kepengasihan itu juga seorang ibu menyusui dan membesarkan anak-anaknya, sehingga melalui sifat kepengasihan ini, Allah Swt. membuktikan bahwa Dia sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Menguasai menjamin hak hidup sebagai hak dasar bagi setiap makhluk yang diciptakan-Nya.
Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah saw yang mendekatkan gambaran besarnya rahmat Tuhan. Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Allah SWT menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan dan diturunkan-Nya ke bumi itu satu bagian. Satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk. (begitu ratanya sampai-sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih sayang, khawatir jangan sampai menginjak anaknya”. (HR. Muslim).
Kasih sayang Allah Swt. telah menyelimuti kehidupan kita sepanjang masa. Jutaan makna hadir tersebar menyelimuti tubuh kita dan alam semesta. Kasih sayang Allah akan selalu setia menemani siapa saja di segala penjuru dunia untuk menikmati kehidupan yang diberikannya. Kasih sayang adalah ibu dari kepedulian yang datang kepada siapa pun dan dimana pun dan menggerakkan seluruh tubuh setiap manusia untuk menebarkannya. Lihatlah ke seluruh tubuh kita. Kedua tangan ini, sebagai “pahlawan peduli,” akan menjadi salah satu saksi hidup di akhirat kelak. Sudahkah kita berterimakasih dan peduli kepada tubuh kita sendiri, terutama kepada kedua tangan kita?
Kasih sayang adalah pijakan dasar kehidupan bermasyarakat. Kasih sayang adalah penuntun hidup dalam mewujudkan kebersamaan. Tanpa kasih sayang masyarakat menjadi beringas. Beringas pada sesama maupun pada lingkungan. Tanpa kasih sayang, masyarakat akan menjalankan segala aktivitas kehidupannya berdasarkan pemahaman atau interpretasi secara individual, sehingga hal ini akan mendorong terciptanya konflik antarindividu. Bila ini terjadi, kekerasan dan keculasan menjadi alternatif dalam menyelesaikan segala persoalan.
Jika saja kasih sayang terus menempel dalam hati dan pikiran kita, kedamaian, kesejukan akan mewarnai tampilan diri. Betapapun derasnya arus gelombang kehidupan, kita mampu berenang memerankan diri dengan baik. Betapapun kerasnya kehidupan ini, kita tidak terjebak untuk menggunakan cara-cara yang kotor hanya untuk sekedar menggapai apa yang diinginkan.
Seorang ibu yang tidak pernah melepaskan kasih sayang dalam dirinya tidak akan mengeluarkan kata-kata kotor saat kemarahan pada anak-anaknya begitu memuncak. Seorang pengajar yang mengajar dengan penuh kasih sayang akan membawa dampak positif bagi perkembangan mental dan intelektual anak. Seorang politikus yang dipenuhi oleh rasa kasih sayang tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang culas. Seorang pemerintah yang tidak melepaskan kasih sayang tidak akan pernah mengkhianati rakyat yang telah mempercayainya. Kasih sayang tidak menggelapkan mata hati.
Kasih sayang adalah kekuatan. Ia mampu memasukkan energi yang membuat diri menjadi tenang dan nyaman. Daya dobraknya mampu membongkar bangunan diri yang liar seperti iri, dengki, picik, atau culas. Daya pikatnya mampu menarik perhatian dan membuat kita bisa menebar pesona yang selalu diharapkan setiap orang. Daya tahannya begitu dahsyat. Kasih sayang mampu menahan gempuran-gempuran isu dan informasi-informasi yang tidak bertanggungjawab, sehingga diri tidak mudah terombang-ambing. Daya jelajahnya mampu membangkitkan potensi diri menuju masa depan yang lebih baik. Ada semangat hidup, semangat bersaing, dan semangat berjuang yang selalu singgah dalam diri, sehingga apapun tantangan dan hambatan yang ada selalu dihadapi dengan penuh percaya diri. Bahkan daya pantul kasih sayang mampu meredakan kemarahan yang memuncak. Wallahu ’alam bi as shawab.
(Penulis, Koordinator Rumah Dakwah dan Spiritualitas Masjid Raya Mujahidin)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar