Sabtu, Januari 10, 2009

Luapan Solidaritas


Oleh: Isa Nur Zaman
Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 01 <09 Januari 2009>

Bak disengat lebah, mayoritas komunitas muslim di berbagai belahan dunia berteriak keras untuk menghentikan perang yang telah menimbulkan banyak korban. Tragedi kemanusiaan yang menghancurkan bumi Gaza dan Palestina saat ini dikecam banyak pihak. Sebenarnya, tidak hanya kaum muslimin yang secara ideologis ada ikatan agama yang sama, penganut agama mana pun yang masih memiliki nurani pastinya akan mengecam tindakan antikemanusiaan itu.
Ratusan jiwa manusia begitu mudah menuai ajal di atas moncong senjata. Maut yang menjemput lewat kekuatan bom dan peluru kian kuat menghadirkan pilu di penjuru dunia. Penghancuran Gaza dan Palestina kian menjadi penanda munculnya benih heroisme baru yang dipicu keganasan para tentara yang seakan tanpa rasa. Penghancuran yang dipicu keserakahan untuk mendapatkan “kontrakan” baru sebagai tempat tinggal yang akan dipermanenkan. Ingin dong, suatu saat memiliki tanah sendiri dengan bangunan rumah yang megah tanpa ada yang mengganggu-gugat.
Itulah tragedi kemanusiaan yang mengawali tahun 2009. Tahun yang sempat dirayakan dengan menghabiskan dana milyaran dolar dalam semalam itu saat ini juga menghabiskan jiwa manusia di bumi Gaza dan Palestina. Nyawa manusia yang sejatinya dilindungi dalam sebuah peperangan menjadi puing yang sia-sia. Anak-anak, orang tua, perempuan menjadi korban bahkan target penghancuran dari sebuah peperangan yang konon tak akan berakhir hingga syahwat kelompok-kelompok itu tetap kuat berkutat untuk tidak berdamai.
Mengerikan! Apapun bentuknya sebuah peperangan selalu menyisakan korban dan benih permusuhan. Kemenangan dalam perang justru dapat memincu perang yang berkelanjutan. Peperangan lebih sering menumbuhkan bibit baru permusuhan yang tak lekang oleh zaman. Benih yang disemai bahkan dipelihara di setiap keturunan. “Kau harus lawan, niscaya dirimu jadi pahlawan! Hidup tertindas atau mati lebih berarti,” demikian ujaran yang selalu ditanamkan untuk sebuah perlawanan.
Saat diwawancara sebuah stasiun TV Internasional, seorang perempuan Palestina yang menjadi korban tragedi kemanusiaan mengatakan, “Wahai warga duania, kami bukan tayangan sinetron yang selalu menjadi tontonan, kami benar-benar korban yang nyata dan sangat membutuhkan bantuan...!” Bagi sesama manusia yang masih memiliki rasa kemanusiaan melampaui sekat agama, negara, suku dan ras sekalipun akan sangat mudah untuk menghimpun bantuan. Tanpa banyak basa-basi untuk sebuah tragedi kemanusiaan ini, di Indonesia saja terkumpul banyak bantuan. Mulai uang, barang kesayangan sang pemilik, bahkan kerelaan jiwa untuk ikut berperang pun ditunjukkan manusia di penjuru dunia untuk sebuah solidaritas kemanusiaan.
Sayangnya, luapan solidaritas atas sebuah tragedi kemanusiaan ini sering terkesan berlebihan dan kerapkali dipolitisir beberapa pihak. Selain itu, luapan solidaritas juga sering ditanggapi secara tidak realitis dan cenderung irasional. Sementara itu, oleh sebagian kelompok seringkali peristiwa-peristiwa kemanusiaan ini dijadikan ajang komoditas. Komoditas yang dapat meraup keuntungan berlipat di atas erangan jiwa-jiwa yang sedang sekarat. Na’udzubillah!
Sebagai contoh, dalam beberapa hari peristiwa agresi Israel ke Jalur Gaza, penulis menerima puluhan SMS anjuran untuk mendoakan umat Islam di Palestina. Pesan singkat tersebut memiliki kemiripan, di antaranya, “Ass. Mohon dibacakan LAA ILAAHA ILLALLAAHU ALLAAHU AKBAR+ Suroh al Ikhlash 3x untuk keselamatan Masjid al Aqsha dan umat Islam yang ada di Palestina yang jam ini sedang dikepung dan diserang Israel dan sekutu Amerika Zionis dan Kristen yang anti Islam (orang-orang kafir). SMSkan ke 10 orang! Sebagai partisipasi jihad Anda! ALLAHU AKBAR!”
Ajakan untuk berdoa adalah kebaikan. Namun ketika berdoa dengan diembeli harus membaca bacaan tertentu dan dibubuhi ajakan untuk mengirim ulang pesan tersebut ke banyak orang, sepertinya perlu dipikir ulang. Jangan-jangan itu justru strategi pihak-pihak tertentu untuk meraih keuntungan dengan memainkan emosi kaum muslimin. Di sisi lain ajakan itu pun tidak selaiknya dimakan mentah-mentah karena jangan-jangan justru lebih menumbuhkan kebencian bukan mencari solusi dengan cara yang lebih elegan.
Di sisi lain, ada juga ajakan untuk berdemo dengan usaha mengumpulkan bantuan dana. Kita mungkin tidak menyadari ketika emosi kita diaduk dalam aksi demo tersebut justru hal itu dijadikan kesempatan untuk meningkatkan popularitas lembaga atau partai tertentu. Sementara itu, aksi-aksi itu juga lebih sering terhenti di jalanan tanpa bantuan yang langsung menyentuh realitas di lapangan. Maka yang akan terlihat hanyalah demonstrasi peragaan atribut lembaga dan partai yang lebih mengedepankan kecam-mengecam, boikot-memboikot maupun kutuk-mengutuk.
Kita sangat menghargai bahwa memang harus ada upaya desakan secara sosial dan politik terhadap penghentian perang ini. Desakan bisa dilakukan di jalanan melalui aksi demo, bisa juga dengan upaya diplomasi melalui lembaga yang lebih berwenang untuk menghentikan perang. Akan tetapi berbagai upaya pertunjukan solidaritas ini jangan menjadi dramaturgi kemanusiaan maya yang hanya menghiasi jagad dunia media semata.
Upaya media menghadirkan gambar dan narasi berita perlu juga dibaca lebih kritis. Penghadiran gambar yang mengharukan rasa kemanusiaan jangan membutakan solidaritas kita dengan menyalurkan bantuan ke lembaga yang tidak jelas. Pun dengan tayangan dentuman bom yang menghancurkan sekolah dan tempat ibadah lewat media jangan lantas dianggap sebagai “kehalalan” bagi kita untuk menghancurkan bangunan orang lain yang bukan milik kita atas nama solidaritas dan kebencian terhadap kaum zionis.
Pembunuhan kepada manusia-manusia yang tak berdosa adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditolerir. Aksi-aksi brutal yang menyebabkan jiwa manusia menjadi tidak berharga wajib dihentikan. Semangat solidaritas terhadap sesama manusia perlu ditunjukkan. Bantuan terhadap korban kemanusiaan pun perlu direalisasikan.
Namun, luapan solidaritas yang kita ekspresikan tidak perlu berlebihan. Ketika kita tidak memiliki kemampuan untuk berperang, kenapa begitu “mati-matian” untuk keukeuh menjadi relawan perang ke Medan Gaza? Saat kita begitu bernafsu untuk membela langsung ikhwan kita di Palestina, kenapa ketika tetangga yang menjadi korban kekerasan dalam rumahtangganya serta merasakan kelaparan karena kemiskinannya tidak lantas kita bantu secara langsung?
Sama sekali tidak ada upaya membenturkan apalagi larangan untuk meluapkan solidaritas yang tumbuh dalam diri kita. Hanya sebuah pengingatan, bahwa bentuk solidaritas terhadap kejahatan kemanusiaan jangan dipindai dari sekat-sekat sempit yang membutakan solidaritas kita terhadap lingkungan terdekat. Jangan-jangan masih ada tetangga, bahkan keluarga terdekat kita yang justru lebih membutuhkan keberadaan kita daripada hanya pergi ke medan Gaza tanpa sebuah kesiapan yang matang.
Mari kita meluapkan solidaritas itu dalam bentuknya yang lebih rasional dan realistis. Bila mampu dengan doa, berdoalah dengan penuh ketulusan. Bila ada sedikit kelebihan harta sisihkan ke lembaga yang tepat untuk disalurkan. Bila memiliki kekuatan strategi dapat dilakukan dengan berdiplomasi yang lebih mengena. Apapun bentuknya, bantuan yang kita salurkan bukan berdasarkan pada kuantitas semata, tetapi lebih kepada ketulusan untuk membantu sesama yang teraniaya. Semoga segala bentuk bantuan yang kita salurkan dapat memunculkan solidaritas kemanusiaan yang ltanpa batas! Wallahu’alam bi al madzhluumin.

(Penulis, Alumnus Training of Trainer Peace Generation Indonesia, Pegiat di Tepas Institute)

2 komentar:

  1. Sejutu kang ! solidaritas kemanusiaan yang kit lakukan untuk palestina, pada hakekatnya adalah ujian sejauhmana sikap kita sebagai Muslim terhdap muslim lainnya. Mungkin tanpa bantuan kita pun Mujahidin Palestina sudah terbiasa berada dalam medan jihad dan bahkan ingin membuktikan kpd dunia bahwa saatnya Zionisme itu hancur di tanah palestina.
    Tulisan akang sangat inspiratif, hatur nuhun kang, kawitna abdi ngantos2 postingan baru di blog mujahidin, alhamdulillah ayeuna tos aya.
    Kanggo abdi urang Malangbong blog ini sangat bermanfaat. Diantos tulisan sanesna.
    Wassalam,
    Usep Supriatna
    www.muhammadirfani.wordpress.com

    BalasHapus
  2. Hatur nuhun kang komentarna! Mudah-mudahan urang tiasa nyalurkeun bentuk solidaritas urang sesuai sareng kamampuan urang masing-masing...!

    BalasHapus