
Oleh: Usep Supriatna
Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 03 <23 Januari 2009>
Pemilu Legislatif 2009 tinggal hitungan bulan. Berbagai manuver dan intrik dalam rangka pencitraan diri terus dilakukan para elit politik untuk merebut simpati publik agar mendukung pencalonan dirinya maupun memenangkan partainya. Hal itu sah-sah saja sepanjang dalam koridor moral dan fatsoen politik yang semestinya. Namun sangat disayangkan, manakala cara-cara yang dilakukan tidak dalam etika politik yang seharusnya. Alih-alih mendapat simpati, malah justeru memperoleh antipati. Kini masyarakat semakin dewasa, cerdas dan melek politik. Tidak mengherankan bila mereka merasa jengah menyaksikan akrobat-akrobat elit politik yang hanya berorientasi pada pemenangan diri dan partainya serta tidak menyertakan niat untuk berbuat sesuatu yang tulus untuk masyarakat atau paling tidak memberi pendidikan politik yang cerdas kepada rakyat.
Sekalipun undang-undang yang mengatur tentang cara-cara kampanye atau merebut perhatian rakyat tidak dilanggar, namun tetap harus memperhatikan etika dan kelaziman publik. Menurut Haedar Nashir, bila partai politik menabrak etika politik (fatsoen politik) maka akan menimbulkan keresahan, ketaknyamanan, kegelisahan dan konflik di ruang publik. Oleh karena itu, tidak cukup legalitas atau formalitas politik yang diindahkan, tetapi juga etika dan kelaziman politik pun harus dijadikan sandaran dalam upaya merebut simpati publik, sehingga wajah perpolitikan di Indonesia ini akan semakin beradab dan bermartabat.
Partai politik, apapun label dan azasnya, sejatinya harus melayani berbagai kepentingan bangsa dan ummat. Menurut Kuntowijoyo, yang diperlukan oleh bangsa dan ummat ialah politik yang rasional dalam konteks Indonesia, yakni kepentingan material dan kesadaran nilai, sehingga masyarakat terlayani dengan layak. Sudah waktunya bangsa dan ummat mendapatkan yang terbaik, semua aspirasi politiknya tersalurkan, tidak berhenti di meja kaum politisi.
Kampanye Politik: dari abstrak kepada konkret
Kampanye politik menjadi instrumen yang memegang peran penting dalam memandu kesadaran publik pada sosok dan citra diri calon. Kampanye menjadi ajang bagi para kandidat presiden, anggota legislatif maupun partai politik untuk secara bebas memasuki relung kesadaran publik melalui pemasaran politik yang terkonsep. Namun, kampanye juga bisa menjadi alat ampuh manipulasi kesadaran politik dan mensubordinasikan publik dalam situasi tunakuasa tanpa literasi politik yang memadai.
Literasi politik dalam konteks Pemilu dipahami sebagai kemampuan warga masyarakat untuk mendefinisikan kebutuhan mereka akan substansi politik terutama perihal Pemilu. Mengetahui strategi pencarian informasi apa, siapa, dan mengapa mereka harus memilih. Memiliki kemampuan untuk mengakses informasi seputar kandidat yang akan mewakili mereka nantinya. (Gun Gun Heryanto, Perang Citra dan Literasi Politik).
Masa kampanye merupakan momentum yang tepat untuk melakukan gerakan literasi politik. Dengan demikian, semestinya kampanye tidak semata-mata mengemas citra (Politik Pencitraan) melainkan juga transformasi kesadaran dan kemampuan publik untuk menjadi rasional voter.
Media masa cetak maupun tulis menjadi ajang kampanye yang dianggap paling efektif untuk memasarkan dagangan politik. Untuk merebut perhatian publik, beberapa partai politik mengkampanyekan partainya dengan isu-isu ekonomi kerakyatan, seperti belanja di pasar tradisional, menggunakan produk-produk dalam negeri dan sebagainya. Sebagian lain ada pula partai politik menggunakan muatan ideologi melalui kampanye tokoh-tokoh yang dianggap memiliki karisma dan kepahlawanan (walau tidak ada kaitannya sama sekali dengan sejarah berdirinya partai tersebut).
Sebagus apapun kampanye politik tetap yang paling efektif dan dapat menyentuh relung publik yang paling dalam adalah sejauhmana partai politik itu bisa membangun citranya dengan berbagai program yang rasional dan realistis.
Agenda politik yang diusung oleh partai politik, khususnya partai politik berbasis Islam, seharusnya lebih mengarah kepada sesuatu yang konkret. Banyak ummat yang berada di level bawah memerlukan sesuatu yang konkret bukan abstrak. Politics of the concrete akan lebih menarik daripada politics of the abstract. Kadang-kadang bagi masyarakat bawah tidak peduli pada persoalan korupsi dan kolusi. Masalah-masalah yang menurut mereka abstrak, tidak menarik dan mahal untuk dibeli oleh masyarakat. Mereka akan memberikan dukungannya pada partai atau rezim yang memberi sesuatu yang konkret. Kadang mereka juga tidak peduli dengan ideologi yang diusung partai. Yang dibutuhkan oleh mereka adalah bagaimana mereka bisa hidup layak dan sejahtera.
Namun bukan berarti bahwa masyarakat kita sudah materialis. Sebab, menurut al Quran, pandangan materialis itu merupakan sesuatu yang menjadi fitrah manusia (lihat QS. Ali Imran [3]: 14). Seseorang tidak boleh meninggalkan kewajiban terhadap keluarganya karena ingin mengabdi pada Tuhan. Isyarat seperti ini sering tidak tertangkap oleh partai politik, terutama partai politik berbasis Islam), sehingga sering ketinggalan dalam menangani persoalan-persoalan wong cilik, seperti buruh, petani, nelayan dan lain-lain. Wajar kalau mereka lebih tertarik pada partai atau lembaga tertentu walau ideologinya sekuler atau sosialis.
Dari Ideologi ke Pragmatisme
Ideologi atau muatan ideologi, menurut Haedar Nashir, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem dan realitas kehidupan umat manusia baik di level kehidupan masyarakat maupun di tingkat dunia. Ideologi selalu hadir dalam sejarah hidup manusia dengan pasang surut yang senantiasa mewarnainya di permukaan bumi ini.
Kajian ideologi dewasa ini masih terus dikembangkan oleh berbagai kalangan, walaupun pada ke-20 ini muncul pandangan tentang kematian ideologi (the end of ideology). Hal ini menggambarkan bahwa ideologi tetap diakui sebagai salah satu aspek yang mempengaruhi sejarah kehidupan umat manusia, meski kehadirannya seringkali paradoks. Di tataran dunia, misalnya, pasca runtuhnya paham komunisme di rusia dan robohnya Tembok Berlin di Jerman menunjukkan keruntuhan sebuah ideologi. Namun sebaliknya, di Negara-negara timur malah muncul kegandrungan terhadap paham ideologi tertentu, seperti sosialisme, marxisme, komunisme.
Di Indonesia, rezim orde baru melaksanakan kebijakan deideologisasi secara efektif sebagai antitesis terhadap kebijakan orde lama yang didominasi oleh politik aliran yang kental ideologi. Orde Baru menggerakkan masyarakat dari ideologi ke pragmatisme, melalui kebijakan-kebijakan pembangunan. Namun, ketika memasuki orde reformasi tahun 1998, politik aliran kembali muncul. Politik aliran yang dilatarbelakangi oleh kepentingan dan muatan ideologi. Hal ini semakin kuat mematahkan pandangan tentang kematian ideologi.
Sekalipun ideologi merupakan sebuah sistem yang sangat penting dalam perjuangan suatu lembaga kemasyarakatan maupun partai politik, namun dalam realitas kehidupan, masyarakat bawah tidak terlalu peduli dengan ideologi. Masyarakat menilai bahwa selama ini terjadi paradoks dikalangan elit politik yang dalam setiap kampanye selalu mengkaitkan kebijakan-kebijakan partainya dengan muatan ideologi tertentu, tetapi kenyataan setelah mereka duduk di pusat kekuasaan atau di legislatif, mereka lupa dengan ideologi yang mereka pidatokan, Justeru mereka sibuk untuk menumpuk kekayaannya, walau dengan jalan korupsi dan manipulasi. Pantas dan wajar apabila muncul sikap apatis dan antipati dikalangan masyarakat terhadap partai politik.
Oleh karena itu, untuk merebut kembali kepercayaan masyarakat terhadap partai politik, selain kebijakan dari abstrak ke konkret, juga harus bergerak dari tataran ideologi ke pragmatisme. Pragmatisme merupakan upaya mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan). Artinya, bahwa program yang diusung partai politik hendaknya mampu untuk dibumikan, agar lebih mudah untuk dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat.
Sejauhmana efektifnya berbagai cara kampanye partai politik atau kampanye calon legislatif menjelang pemilu 2009? Kita tunggu saja jawabannya. Wallahu ‘alam bishshwwab.
(Penulis, Pengurus PC. Muhammadiyah Malangbong, Garut, Pengelola www.pcmmalangbong.blogspot.com)

Ass. Kang punten, seratana nembe dimuat di Buletin Gema Mujahidin Edisi Cetak 16 Januari 2009. Bilih gaduh deui seratan tiasa dikintunkeun deui kang! Atanapi aya rengrengan ti pengurus PCM anu sok nyerat tiasa dikintun ka email abdi.
BalasHapusOh muhun abdi sareng rerencangan AMM nuju ngadamel blog kangge media silaturahim,diskusi sareng informasi warga Muhammadiyah nu aya di pelosok kang. Janten informasi Muhammadiyah arus bawah sapertos ranting sareng cabang tiasa diblow up ka pengurus di PWM Jabar, bahkan mudah-mudahan tiasa ka PP. Pami aya info naon tiasa dilebetkeun we ka www.warta-muhammadiyah.blogspot.com. Mung samentawis mah blogna teu acan didamel anu baku masih milari format nu pas. Diantos saran sareng kritikna...!
Oh muhun blog pcm malangbong tos ditingalikeun ku abdi ka Pak Ayat Dimyati. Respon anjeuna sae. Mudah-mudahan PWM Jabar saenggalna ngadamel website. Piraku we pami teu kiat kangge ngadanaan mah, kawon ku PCM Malangbong heee....
oh muhun kang,honor seratan di buletin GM tiasa dicandak ka Sancang 6, hubungi abdi atanapi Hendra Kadarusman, pami t tiasa dicandak abdi nyuhunkeun no rekening ka usepna. punten teu acan tiasa masihan ageung hee..! Salam ka kulawargi sareng pengurus PCM Malangbong.
Wass.
Isa Nur Zaman
Assalamualikum... apa sekarang masih merima artikel Kang?
BalasHapusSalam
Arda Dinata
www.ArdaDinata.com