
Oleh: Ayat Dimyati
Syari’at berqurban yang akan dilaksanakan setelah salat Idul Adha sampai selama tiga hari tasyrik berikutnya, merupakan panduan awal secara khusus, untuk bisa dilakukan qurban-qurban berikutnya yang lebih umum dan lebih banyak lagi oleh kita semua. Qurban-qurban itu, berlanjut tiada henti sepanjang hidup, sampai terlihat musuh-musuh umat ini tidak menunjukan keangkuhannya; baik dalam politik, ekonomi, sosial budaya, keilmuan, dan dalam bidang-bidang kehidupan lainnya. Inilah makna yang dimaksud sebagai atsar (dampak, red) dari ibadah qurban inna syaaniaka huwa al abtar (sungguh pembencimulah yang akan musnah).
Bagaimana agar selama kita menjalani kehidupan ini, diisi penuh dengan beribadat dan berkurban ini, yang berlanjut pada posisi ketakwaan. Bahkan, sampai pada derajat haqqa tuqâtih (sebenar-benarnya ketakwaan). Kata taqwa berasal dari al-wiqâ-yah, bermakna penjagaan atau pemeliharaan.
Siapa yang memiliki penjagaan dan pemeliharaan ini? Apakah kita sehat dan kuat sekarang ini hasil kita sendiri, atau pemberian dari dokter spesialis? Dalam kehidupan berkeluarga, kita semua menginginkan kehidupan sakinah, mawaddah dan rahmah; dalam kehidupan di lingkungan warga masyarakat, kita menginginkan qaryah mubârakah; dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita menginginkan kondisi bernegara yang baik dan penuh ampunan Allah Swt. Apakah itu semua bisa diperoleh tanpa karunia, rahmat dan ampunan Allah Swt.? Tentu tidak!
Untuk itulah, Allah Swt. memberikan tuntunan melalui perutusan Rasul-Nya. Demikian juga ibadat yang kita lakukan sekarang ini, memiliki bentangan teladan Abu al-Anbiya, Ibrahim a.s., sebagai pembawa ajaran tauhidullah yang millah-nya dilanjutkan oleh Nabi Muhammad Saw. dan insya Allah oleh kita semua.
Ada tiga teladan yang bisa diambil dari millah Ibrahim a.s. ini, yang diharapkan teladan-teladan tersebut bisa mengeluarkan kita semua dari krisis yang sedang dihadapi bersama sekarang ini.
Pertama, teladan bersifat umum, yaitu terbebas dari berbagai kesalahan, melalui muhasabah al-nafs dan bertaubat kepada Allah Swt. Teladan ini, bersifat universal, semua para Nabi Allah dari Adam a.s. sampai Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi terakhir, menjalani pembebasan dari berbagai kesalahan ini. Hal itu diisyaratkan QS. al-Nahl [16]:119: “Kemudian, Sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya; kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Berdasarkan rumusan ayat ini, maka siapa saja yang berkehendak menyelesaikan persoalan baik pribadi maupun komunitas umat dan bangsa, maka diperlukan terlebih dahulu bersih hati, niat yang tulus karena Allah Swt.
Kedua, istiqamah dalam keimanan dan ketaatan hanya kepada Allah Swt. Dua jenis ketaatan yang menjadi komitmen Nabi Ibrahim as, yaitu:
1. Ketaatan yang berimplikasi pada pengokohan karakter pribadi, melalui 4 hal:
a. Qânitan (senantiasa melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. dengan khusyu’).
b. Hanîfan (senantiasa cenderung menjauh dari berbagai kebatilan dan mendekat pada ajaran agama yang hak).
c. Lam yaku min al-musyrikin (tidak berbuat syirik).
d. Syâkiran li an’umihi (syukur nikmat).
Keempat karakter ini yang mengantarkan kualitas pribadi Ibrahim a.s. ke tingkat kualitas kepemimpinan prima bagi semua umat manusia.
2. Menegakkan nahyi munkar yang ada di hadapannya yang menyebabkan umat rusak karena berbagai fitnah menempa mereka.
Dalam hal ini Allah SWT., menyatakan dalam al Quran: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku; Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak akan mengenai orang-orang yang zalim". (QS. al-Baqarah [2]: 124).
Ketiga, berkiprah dalam berbagai urusan keumatan, sebagai ikhtiar membangun ummah wâhidah, melalui aktivitas: imâmam, mu’alliman, qudwatan li hushûli jamî’i al-khair (memberikan bimbingan, pengajaran dan anutan kepada umat agar mereka bisa menghasilkan berbagai produk kebaikan).
Kesemua teladan Ibrahim a.s. itu adalah manusiawi termasuk kepemimpinannya. Artinya, perbuatan itu bisa dilakukan oleh setiap manusia, dan kepemimpinannya akan berlanjut terus; sesuai dengan pernyataan: wa min dzurriyatii (Ibrahim berkata: Ya Tuhan! kepemimpinan itu juga diberikan kepada dzurriyahku). Namun, Tuhan menjawab, bahwa kepemimpinan yang telah diberikan kepadamu itu, sama sekali tidak akan diberikan kepada orang-orang yang melakukan kezaliman. Di sinilah posisi dan peran ketakwaan bagi seseorang calon pimpinan.
Qurban dan Kepemimpinan
Sekarang ini, kita semua sebagai warga negara yang baik, menyadari benar pentingnya suksesi kepemimpinan ini. Karakter pemimpin yang diharapkan, yaitu seseorang yang bisa membawa umat keluar dari kungkungan multidimensi yang sedang menghimpitnya. Karakter itu, tiada lain hanya ada pada mereka yang bertakwa waj’alnaa lill muttaqiin imaaman; jadikanlah kami (ya Allah) sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa).
Ada tiga standar pemimpin orang yang bertakwa. Pertama, bi al-hikmah (keseimbangan di antara penguasaan ‘ilmu dan ‘amaliyahnya, yang mengantarkan diperolehnya kebenaran/al-haq). Kedua, bi al-‘iffah (berkemampuan mengendalikan diri dari kekuatan-kekuatan hawa nafsu, karena rakus dan thama’; baik thama’ kekuasaan maupun thama’ harta kekayaan. Ketiga, bi al-syajâ’ah (keberanian dalam menjalankan yang hak).
Bila demikian, maka pemaknaan qurban dalam arti khusus yang hanya bisa menyantuni keperluan spirit individu/privat; perlu dikembangkan pemaknaannya pada wilayah qurban dalam arti umum atau bersifat publik. Hal ini dipertimbangkan agar setiap persaingan sosial di antara umat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada NKRI ini, bisa dimenangkan umat Islam. Kemenangan umat Islam melalui standar di atas, merupakan kepastian datang dari Allah Swt. Karena itu, maka tuntutan pengorbanan atau berqurban dalam arti umum ini, semestinya lebih banyak dilakukan oleh para pimpinan publik ini.
Sebaliknya, bila ketiga standar kepemimpinan di atas, dan karakter yang ditawarkan Nabi Ibrahim a.s. tidak dimiliki oleh seorang pimpinan publik, maka kualitas kepemimpinan dalam dirinya, hanyalah mendasarkan pada hawa nafsunya. Bila hawa nafsu, menjadi panglimanya, maka Allah Swt. akan membiarkan mereka itu, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Al- Ra’du [13]: 37: “Dan demikian itu, Kami telah menurunkan al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab; dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.”
Bagaimana jadinya, bila Allah SWT. telah meninggalkan para pimpinan di nege-ri ini, karena mereka tidak siap berkorban untuk agama dan umat; Allah telah me-ninggalkan kita semua, karena kita semua tidak menunjukkan ketakwaan kepada-Nya. Hanya kepada Allah Swt. jualah kita semua memohon ampunan, kekuatan, ber-kah dan rahmat-Nya, untuk kita memperbaiki kehidupan ini.
(Penulis, Wakil Ketua PW. Muhammadiyah Jawa Barat)

Selamat atas terbitnya www.bloggemamujahidin.blogspot.com semoga dapat mewarnai dakwah media di dunia maya. Selamat....! Semoga eksis...!
BalasHapusAlhamdulillah sudah terbit blog gemamujahidin, mudah2an dapat menjembatani komunikasi pwm jabar dengan arus bawah muhammadiyah dan mewadahi aspirasi anggota muhammadiyah untuk turut berpartisipasi dalam dakwah lewat media dunia maya ini! Selamat !
BalasHapusposting tulisan yang barunya belum ada ?
BalasHapus