Oleh: Supriyatna Abdul Gafur
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 18 (08 Mei 2009)
Peredaran narkoba dan miras semakin menggila. Beberapa kali pabrik raksasa obat terlarang itu terbongkar di wilayah sekitar Jabodetabek. Negara kita memang telah menjadi surga bagi konsumsi tapi juga produksi narkoba. Ironis memang, di negara yang mayoritas penduduknya masyarakat Islam. Terakhir korban yang menenggak miras berjamaah kembali berjatuhan di Banjar. Lima orang meninggal sedangkan lima belas lainnya masih kritis di rumah sakit. Kasus tersebut masih dalam penyelidikan aparat yang berwenang. Salah satu dugaan sementara pesta itu merupakan ‘syukuran’ atas lolosnya calon legislatif yang mereka dukung.
Terlepas dari benar tidaknya pesta miras sebagai “syukuran”, dalam menghadapi sukses atau pun gagal dalam masyarakat kita hari ini cenderung kehilangan kendali dalam bersikap. Ketika tidak lolos, collapse atau gagal serta merta melakukan tindakan bunuh diri karena depresi dan stress. Namun ketika berhasil pun sama tak bisa bersyukur atas kesuksean yang diraih. Sikap sombong dan lupa diri segera menghinggapi para pemenang baik dalam bisnis, studi atau politik. Padahal al-Qur’an telah mewanti-wanti agar kita bersikap wajar dan bijaksana baik tatkala suka maupun duka. Sebab bagi seorang mukmin semuanya atas izin Allah. Dia memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. “Agar kamu tidak putus asa atas sesuatu yang hilang darimu dan tak sombong dengan sesuatu yang kamu peroleh.”
Menurut sebab turunnya, ayat ini berkenaan dengan perang Hunain. Pada perang tersebut jumlah kaum mukminin cukup besar dan senjatanya lengkap. Namun kebanggaan fasilitas itu tidak menjadikan mereka tawadhu dan tawakal kepada Allah Swt. Allah Swt. menguji iman mereka. Pasukan tersebut diterjang pasukan orang-orang kafir secara mendadak di bukit-bukit yang menghimpit dan mempersulit gerak kaum muslimin. Kaum muslimin bersedih karena menanggung banyak kerugian baik materiil mapun moril. Namun ada pelajaran yang berharga dari semua itu yakni jangan melupakan Allah Yang Maha Kuasa.
Sikap terbaik bagi seorang mukmin jika ia mendapat anugerah dan nikmat ia senantiasa bersyukur. Sedangkan jika mendapat ujian dan cobaan ia tetap memelihara imannya dengan bersabar. Sabar dan syukur ini merupakan stabilisator agar kita tidak menyikapi hidup secara emosional. Hidup secara emosional pada hakekatnya mengikuti hawa nafsu karena tak menghiraukan bisikan hati yang bercahaya (nurani). Dan Pola hidup yang mengikuti hawa nafsu inilah yang diistilahkan dengan jahiliyah (tunduk pada cengkaraman hawa nafsu dan emosi tanpa mengindahkan akal sehat).
Para pelajar yang baru selesai mengikuti hari terakhir UN, meskipun belum tentu lulus secara ekspresif berpawai ria dengan seragam yang telah penuh dicorat-coret philox dan tanda tangan. Mereka tak pernah berpikir bahwa di antara anak-anak seusia mereka ada yang membutuhkan seragam bekas. Terutama anak-anak yang tidak mampu.
Para caleg yang gagal jika tidak bunuh diri, mereka segera mengambil bantuan yang telah diberikan kepada masyarakat. Maka wajah semu kedermawan pun terkuak. Mereka memberi karena mengaharapkan sesuatu. Memberi mengharap imbalan.
Sebagian yang lain, karena terlilit utang dan gagal menjadi wakil rakyat memilih menghabisi perjuangan mereka di seutas tali atau sebotol racun. Menurut Shopenhauer, orang yang bunuh diri adalah orang yang tidak jujur karena keinginan sebenarnya ialah terus hidup dengan tercapainya hasrat dan keinginan mereka. Namun karena tidak kesampaian, mereka menutupi keinginan hidup dengan kematian. Dengan kata lain mereka tidak ksatria atas takdir yang digariskan, tak berpasrah kepada Allah Swt. atas nasib yang dialami. Secara tak langsung ia hendak “melampaui” Yang Maha Kuasa yang telah menentukan ajalnya.
Salah satu tips yang diajukan David Richo agar kita bisa menghadapi masa-masa sulit adalah dengan menerima hidup kita seutuhnya. Dalam makna seutuhnya kita mengakui keterbatasan, ketidakberdayaan, dan kekurangan kita. Kita bukan penguasa di jagat raya. Kita hanya bisa berusaha. Kita memperjuangkan segala sesuatu dengan proses. Kita beda dengan Yang Maha Kuasa yang jika menghendaki sesuatu tinggalkan memfirmankan Kun Fayakun.
Sikap menerima hidup kita seutuhnya adalah makna sejati islam. Islam bermakna penyerahan diri. Ketika kita mendapat jabatan, anugerah dan kejayaan kita serahkan bahwa semua itu karena izin-Nya. Begitu juga tatkala musibah dan bencana meninmpa kita. Kita tidak lupa bertawakal dan berserah diri padanya. Dengan konsep penerimaan diri kita seutuhnya termasuk segala cela dan kecacatannya kita bersifat gentle dalam hidup. Dengan ketegaran ini hidup kita akan bahagia dan nyaman. Karena rasa sakit, stress dan depresi biasanya lahir dari berbagai penyangkalan dan penolakan diri dari berbagai kenyataan yang menimpa kita. Ada sebuah kisah menarik tentang sikap menerima hidup seutuhnya.
Al-Madaini meriwayatkan bahwa tatkala ia berthawaf di masjidil haram, ia melihat seorang perempuan yang wajahnya ceria dan berseri-seri. Saking terpesonanya, ia bergumam,” Belum pernah sebelumnya ia bertemu perempuan yang seceria dan sebahagia dia. Pastilah dia orang senang dan terpandang.”
Singkat cerita ia saling menyapa dan akhirnya perempuan itu berterus terang bahwa ia sebenarnya tak seindah yang ia bayangkan. Sebenarnya ia pernah mengalami masa-masa sulit yang dahsyat tak terperi. “Dulu aku mempunyai seorang suami dan dua anak. Pada acara hari raya suamiku menyembelih kambing. Dua anaknya bermain-main di halaman. Tanpa sepengetahuan ayahnya. Mereka meniru cara menyembelih kambing.
Si Sulung berkata kepada adiknya,”maukah kau aku tunjukkan bagaimana ayahmu menyembelih kambing?” Adiknya dibaringkan dan segera disembelih.. Melihat darah adiknya berceceran, ia di merasa kaget dan takut. Ia segera lari bersembunyi ke hutan. Malang, ia malah disantap serigala. Ayahnya mencari ke hutan berhari-hari namun nihil. Karena sedih bercampur dengan rasa lapar dan haus ia pun meninggal.
Aku hidup menyendiri selama bertahun-tahun. Sungguh itulah titik nadir dalam hidupku? Mendengar cerita dukanya al-Madaini terperanjat. “ bagaimana kamu bisa bersabar atas semua peristiwa yang kamu alami?” Jika aku terus mengenang masa-masa sulit itu, tentu aku depresi. Namun aku menganggap semua peristiwa masa laluku sebagai luka yang telah mengering.” Itulah contoh pribadi tangguh yang mampu menerima hidup seutuhnya dan berserah diri kepada Allah. Wa Allahu A’lamu bi al-Shawab.
(Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah [STAIM] Bandung, Pengurus Rumah Dakwah dan Pengembangan Keagamaan [RDPK] Mujahidin)
Rabu, Mei 06, 2009
Bacaan Sumber Pengetahuan
Oleh: Akmaliyah
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 17 (01 Mei 2009)
Ayat pertama yang diturunkan pada Nabi Muhammad Saw. di Gua Hira adalah perintah membaca, yaitu tiga ayat pertama dari surat al ‘Alaq. “Bacalah (hai Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu”. Ayat pertama cukup dengan memerintahkan dengan satu kata atau kegiatan yang bersifat umum, yaitu perintah membaca.
Mengapa ayat pertama yang turun adalah tentang perintah membaca? Seberapa penting membaca bagi kehidupan umat manusia? Lalu, bacaan seperti apa yang bermanfaat bagi kehidupan manusia itu?
Perintah Membaca
Ayat yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah tentang perintah membaca. Hal itu karena begitu pentingnya kegiatan membaca bagi peningkatan pengetahuan manusia. Melalui membaca kita dapat menyerap informasi dari berbagai belahan bumi dengan cepat dan hemat (efektif dan efisien).
Tanpa harus mendatangi tempat tertentu untuk mengetahui informasi yang ada di dalamnya, kita sudah mendapatkan informasi itu melalui buku bacaan, majalah, surat kabar dan media informasi lainnya. Tanpa biaya yang terlalu besar dan mahal, tanpa harus menyita waktu yang cukup banyak, kita sudah mendapatkan informasi yang berharga melalui bacaan.
Makna kata bacaan secara etimologis adalah sesuatu yang dapat dibaca (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal. 71). Secara terminologis bacaan dapat diartikan sebagai suatu hal yang memberikan informasi, baik itu yang dapat dibaca melalui tulisan, ditangkap informasinya dengan indera mata, atau informasi lisan yang dapat didengarkan, informasi gerak tubuh atau kejadian alam yang dapat ditangkap dengan pikiran/renungan, informasi sentuhan yang dapat diterima oleh indera kulit dan pengecap, atau bacaan yang akan memberikan informasi bagi ketenangan batin kita, seperti dzikrullah, macam-macam dzikrullah seperti membaca al Qur’an, salat, zikir menyebut asma Allah dan sebagainya, baik secara lisan (dzahir) maupun dalam hati (sirri).
Dari semua jenis bacaan di atas pada dasarnya dapat dibagi dua, yaitu bacaan yang mereproduksi dan mengekspresikan kehebatan karya manusia, bacaan itu dapat berupa buku, majalah, radio, televisi dan sebagainya. Ada pula bacaan yang secara terang-terangan mereproduksi dan mengekspresikan kehebatan Allah Swt. seperti bacaan tentang peristiwa alam, fisik manusia, zikir untuk asma Allah, bacaan al Qur’an dan lainnya.
Dari kedua jenis bacaan itu sebenarnya muara akhir tujuan bacaan itu adalah keagungan Allah Swt. Karena ekspresi dan reproduksi kehebatan manusia juga tidak terlepas dari kehebatan Allah Swt. Maka pada dasarnya kehebatan manusia yang ditampilkan itu sebenarnya juga mengekspresikan kehebatan-Nya. Disinilah manusia menempatkan poisisi dirinya sebagai pengganti Allah (khalifah Allah). Manusia diperintahkan membaca agar manusia mengetahui kehebatan-Nya dan akhirnya menempatkan posisinya sebagai hamba Allah (‘Abdullah).
Sumber Pengetahuan
Menurut al Ghazali pengetahuan yang dimiliki manusia itu ibarat air dalam kolam, jika manusia ingin menambah pengetahuannya, sebenarnya dapat menggali kolamnya lebih dalam, agar air dalam kolam itu jernih, karena air yang ada berasal dari sumbernya. Pengetahuan yang digali dari kolam ini adalah merupakan tambahan pengetahaun yang diberikan Allah Swt. secara gratis yang tidak diupayakan oleh manusia itu sendiri (’ilmun ghairu muktasab), ilmu itu dapat berupa ilham atau petunjuk dari Allah Swt.
Ilmu pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara membaca asma Allah secara teratur (dalam ilmu tasawuf dikenal dengan upaya riyadhah). Sedangkan ilmu yang diupayakan manusia (’ilmun muktasab) itu ibarat air yang mengalir dari luar kolam, yang mungkin saja air itu tidak jernih adanya. Ilmu itu diperoleh dengan cara membaca karya-karya manusia lainnya, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan berguru pada yang ahli. Dengan kesungguhan mencari ilmu pengetahuan itu maka pengetahuan manusia akan bertambah.
Tetapi pada dasarnya, ’ilmun muktasab dan ghairu muktasab yang telah disebutkan di atas pada dasarnya tetap dilakukan melalui usaha keras dan bukan barang gratis yang diberikan Allah Swt. tanpa upaya dan kesungguhan manusia. ’Ilmun ghairu muktasab pun diperoleh pada saat manusia bersungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya membaca asma-Nya. Bahkan harus melalui tahapan-tahapan tertentu bila perlu, agar bacaan itu lebih terarah dan bermakna.
Jadi akan menjadi lebih seimbang jika upaya ’ilmun muktasab dan ghairu muktasab tadi diupayakan bersama-sama, hal itu akan membuat air kolam akan semakin banyak dan air jernih lebih bisa mengimbangi keumngkinan air keruh yang masuk ke dalam kolam itu. Pengetahuan yang diterima dari manusia di luar dirinya akan dibentengi dengan pengetahuan (petunjuk) yang diberikan Allah Swt. kepadanya.
Dengan keseimbangan ini bacaan itu menjadi lebih beragam, bacaan juga menjadi jelas arah dan maknanya karena bacaan yang dibaca itu dimaksudkan untuk meraih pengetahuan dan kebenaran yang semata-mata itu semua berasal dari-Nya. Upaya membaca itu diperuntukkan mencapai pengetahuan bahwa kita mempunyai dua tugas penting di dunia ini (khalifatullah dan ‘abdullah).
Untuk merealisaikan dua tugas penting itu kita memerlukan pengetahuan yang banyak, agar tugas dapat dilaksanakan secara (mendekati) sempurna. Dalam The Cultural Atlas of Islam disebutkan bahwa, “Islam identified it self with knowledge. It made knowledge its condition as well as its goal”. (Islam mengidentifikasi dirinya dengan ilmu. Bagi Islam, ilmu adalah syarat sekaligus tujuan dari agama itu). (Ismail Raji al-faruqi dan Lois Lamya’ al-Faruqi: 1986: 230).
(Penulis, Dosen Fakultas Adab Universitas Islam Negeri [UIN] Sunan Gunung Djati Bandung, Aktivis PW 'Aisyiyah Jawa Barat)
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 17 (01 Mei 2009)
Ayat pertama yang diturunkan pada Nabi Muhammad Saw. di Gua Hira adalah perintah membaca, yaitu tiga ayat pertama dari surat al ‘Alaq. “Bacalah (hai Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu”. Ayat pertama cukup dengan memerintahkan dengan satu kata atau kegiatan yang bersifat umum, yaitu perintah membaca.
Mengapa ayat pertama yang turun adalah tentang perintah membaca? Seberapa penting membaca bagi kehidupan umat manusia? Lalu, bacaan seperti apa yang bermanfaat bagi kehidupan manusia itu?
Perintah Membaca
Ayat yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah tentang perintah membaca. Hal itu karena begitu pentingnya kegiatan membaca bagi peningkatan pengetahuan manusia. Melalui membaca kita dapat menyerap informasi dari berbagai belahan bumi dengan cepat dan hemat (efektif dan efisien).
Tanpa harus mendatangi tempat tertentu untuk mengetahui informasi yang ada di dalamnya, kita sudah mendapatkan informasi itu melalui buku bacaan, majalah, surat kabar dan media informasi lainnya. Tanpa biaya yang terlalu besar dan mahal, tanpa harus menyita waktu yang cukup banyak, kita sudah mendapatkan informasi yang berharga melalui bacaan.
Makna kata bacaan secara etimologis adalah sesuatu yang dapat dibaca (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal. 71). Secara terminologis bacaan dapat diartikan sebagai suatu hal yang memberikan informasi, baik itu yang dapat dibaca melalui tulisan, ditangkap informasinya dengan indera mata, atau informasi lisan yang dapat didengarkan, informasi gerak tubuh atau kejadian alam yang dapat ditangkap dengan pikiran/renungan, informasi sentuhan yang dapat diterima oleh indera kulit dan pengecap, atau bacaan yang akan memberikan informasi bagi ketenangan batin kita, seperti dzikrullah, macam-macam dzikrullah seperti membaca al Qur’an, salat, zikir menyebut asma Allah dan sebagainya, baik secara lisan (dzahir) maupun dalam hati (sirri).
Dari semua jenis bacaan di atas pada dasarnya dapat dibagi dua, yaitu bacaan yang mereproduksi dan mengekspresikan kehebatan karya manusia, bacaan itu dapat berupa buku, majalah, radio, televisi dan sebagainya. Ada pula bacaan yang secara terang-terangan mereproduksi dan mengekspresikan kehebatan Allah Swt. seperti bacaan tentang peristiwa alam, fisik manusia, zikir untuk asma Allah, bacaan al Qur’an dan lainnya.
Dari kedua jenis bacaan itu sebenarnya muara akhir tujuan bacaan itu adalah keagungan Allah Swt. Karena ekspresi dan reproduksi kehebatan manusia juga tidak terlepas dari kehebatan Allah Swt. Maka pada dasarnya kehebatan manusia yang ditampilkan itu sebenarnya juga mengekspresikan kehebatan-Nya. Disinilah manusia menempatkan poisisi dirinya sebagai pengganti Allah (khalifah Allah). Manusia diperintahkan membaca agar manusia mengetahui kehebatan-Nya dan akhirnya menempatkan posisinya sebagai hamba Allah (‘Abdullah).
Sumber Pengetahuan
Menurut al Ghazali pengetahuan yang dimiliki manusia itu ibarat air dalam kolam, jika manusia ingin menambah pengetahuannya, sebenarnya dapat menggali kolamnya lebih dalam, agar air dalam kolam itu jernih, karena air yang ada berasal dari sumbernya. Pengetahuan yang digali dari kolam ini adalah merupakan tambahan pengetahaun yang diberikan Allah Swt. secara gratis yang tidak diupayakan oleh manusia itu sendiri (’ilmun ghairu muktasab), ilmu itu dapat berupa ilham atau petunjuk dari Allah Swt.
Ilmu pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara membaca asma Allah secara teratur (dalam ilmu tasawuf dikenal dengan upaya riyadhah). Sedangkan ilmu yang diupayakan manusia (’ilmun muktasab) itu ibarat air yang mengalir dari luar kolam, yang mungkin saja air itu tidak jernih adanya. Ilmu itu diperoleh dengan cara membaca karya-karya manusia lainnya, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan berguru pada yang ahli. Dengan kesungguhan mencari ilmu pengetahuan itu maka pengetahuan manusia akan bertambah.
Tetapi pada dasarnya, ’ilmun muktasab dan ghairu muktasab yang telah disebutkan di atas pada dasarnya tetap dilakukan melalui usaha keras dan bukan barang gratis yang diberikan Allah Swt. tanpa upaya dan kesungguhan manusia. ’Ilmun ghairu muktasab pun diperoleh pada saat manusia bersungguh-sungguh dan sebanyak-banyaknya membaca asma-Nya. Bahkan harus melalui tahapan-tahapan tertentu bila perlu, agar bacaan itu lebih terarah dan bermakna.
Jadi akan menjadi lebih seimbang jika upaya ’ilmun muktasab dan ghairu muktasab tadi diupayakan bersama-sama, hal itu akan membuat air kolam akan semakin banyak dan air jernih lebih bisa mengimbangi keumngkinan air keruh yang masuk ke dalam kolam itu. Pengetahuan yang diterima dari manusia di luar dirinya akan dibentengi dengan pengetahuan (petunjuk) yang diberikan Allah Swt. kepadanya.
Dengan keseimbangan ini bacaan itu menjadi lebih beragam, bacaan juga menjadi jelas arah dan maknanya karena bacaan yang dibaca itu dimaksudkan untuk meraih pengetahuan dan kebenaran yang semata-mata itu semua berasal dari-Nya. Upaya membaca itu diperuntukkan mencapai pengetahuan bahwa kita mempunyai dua tugas penting di dunia ini (khalifatullah dan ‘abdullah).
Untuk merealisaikan dua tugas penting itu kita memerlukan pengetahuan yang banyak, agar tugas dapat dilaksanakan secara (mendekati) sempurna. Dalam The Cultural Atlas of Islam disebutkan bahwa, “Islam identified it self with knowledge. It made knowledge its condition as well as its goal”. (Islam mengidentifikasi dirinya dengan ilmu. Bagi Islam, ilmu adalah syarat sekaligus tujuan dari agama itu). (Ismail Raji al-faruqi dan Lois Lamya’ al-Faruqi: 1986: 230).
(Penulis, Dosen Fakultas Adab Universitas Islam Negeri [UIN] Sunan Gunung Djati Bandung, Aktivis PW 'Aisyiyah Jawa Barat)
Membangun Rasa Sayang dan Hormat pada Anak
Oleh: Akmaliyah
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 16 (24 April 2009)
Saat ini perilaku anak-anak dan remaja kita menunjukkan hal-hal yang sangat mengkhawatirkan. Penanaman budi pekerti menjadi dipertanyakan. Selanjutnya orang tua, guru dan masyarakat mulai mencari kambing hitam.
Mereka mempermasalahkan peran dan fungsi media elektronik yang canggih yang telah mengoyak mentalitas anak untuk memiliki pekerti baik berupa rasa sayang dan hormat. Mereka mempersalahkan tayangan televisi, internet, dan HP yang telah merenggut pekerti yang baik berupa rasa sayang dan hormat dari hati sanubari mereka. Padahal bukankah media elektronik yang canggih itu merupakan pisau bermata dua, di samping memiliki nilai negatif tetapi di sisi lain ia juga memiliki banyak nilai positif? Selain itu, kaum perempuan bekerja juga kena sorotan, mereka dianggap menjadi salah satu penyebab merosotnya moral anak-anak. Patutkah kaum perempuan bekerja dipersalahkan?
Rasa sayang dan hormat adalah dua jenis nilai dalam pekerti yang paling mendasar untuk membina pergaulan yang baik antar sesama. Dua jenis pekerti ini bisa dimiliki siapa saja tanpa perlu membutuhkan kecerdasan intelektual yang baik, karena anak yang cerdas otaknya belum tentu memiliki rasa sayang dan hormat atau belum tentu memiliki pekerti yang baik.
Sayang dan sikap hormat merupakan bentuk kecerdasan emosional dan spiritual seseorang. Dua kecerdasan ini merupakan faktor yang sangat penting dan menunjang keberhasilan dan kebahagiaan seseorang. Bukan hanya kebahagiaan di dunia, tetapi juga di akhirat. Seseorang yang cerdas otaknya belum tentu bisa meraih keberuntungan di dunia atau di akhirat, jika kecerdasan emosional dan spiritualnya rendah.
Hubungan dan sikap kepada orang lain merupakan kunci sukses keberhasilan di dunia,ini bisa diatasi dengan kecerdasan emosional. Sedangkan hubungan dan sikap kepada Tuhan merupakan kunci sukses di dunia dan akhirat. Bekal kecerdasan emosional saat berhubungan dengan orang lain agar keberhasilan dunia dapat diraih belumlah cukup. Perlu ditopang dengan kecerdasan spiritual, yaitu kekuatan Tuhan yang dapat membolak-balik perasaan hati manusia; muqallib al-Qulûb. Tuhan juga di atas segalanya, pemilik dan penentu semua kejadian. Manusia hanya bisa berusaha.
Bukan berarti kecerdasan intelektual tidak perlu. Kecerdasan intelektual tetap diperlukan karena pengetahuan dan kehidupan perlu dikembangkan juga dengan kecanggihan pikiran dan pengetahuan. Tetapi kecerdasan intelektual bukan segala-galanya. Yang terpenting adalah keberuntungan dalam hidup. Ada kalimat bijak dalam bahasa Arab : Anta mâhirun wa lâkin laysa laka hadzzun (Anda memang pintar tapi Anda belum beruntung). Keberuntungan hidup hanya akan dapat dicapai dengan memanfaatkan kecerdasan emosisonal dan spiritual dengan sebaik-baiknya.
Menanamkan Rasa Sayang dan Hormat
Menurut Ahmad Tafsir, tujuan pendidikan Islam menciptakan manusia yang sempurna, atau manusia yang taqwa, manusia beriman dan beribadah kepada Allah (2005: 51). Menurut Ahmad D. Marimba (1989: 46), tujuan pendidikan adalah terbentuknya kepribadian Muslim. Sedangkan menurut Athiyah al-Abrasyi (t.t: 113) bahwa tujuan pendidikan adalah tercapainya akhlak yang sempurna, sebagaimana dimaksudkan diutusnya Rasulullah pada umat manusia, yaitu diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Maka, pekerti dapat disosialisasikan pada anak dalam bentuk pendidikan. Kegiatan pendidikan yang memiliki tujuan sepeerti diuraikan di atas. Pendidikan ini dapat dilakukan anak sejak dalam rahim hingga menjelang akhir hayatnya. Tahapan pendidikan pekerti pada anak seperti halnya praktek pendidikan manusia pada umumnya, yaitu telah dimulai sejak anak manusia belum menjadi janin, bahkan sejak ibu dan ayahnya masih pacaran dan masih dalam tahap memilih-milih bakal calon ibu dan ayah si anak; pendidikan selanjutnya saat ayah ibu menikah, lalu melakukan senggama; pendidikan anak manusia saat menjadi janin di rahim ibunya; pendidikan anak manusia saat menjadi bayi, lalu anak-anak; dan pendidikan anak manusia menjelang remaja dan dewasa; pendidikan manusia setelah mencapai orang tua/jompo.
Ajaran pekerti yang utama dilakukan adalah rasa sayang dan sikap hormat kepada orang tua dan orang sebaya atau yang lebih muda. Mengutip sebuah hadist: laysa minnâ man lam yarham shagiranâ wa lam yuwaqqir kabîranâ (bukan merupakan golonganku (Nabi) barang siapa yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua. Hormat dan sayang perlu dilakukan anak-anak pada orang yang lebih tua). Jika rasa sayang anak-anak pada orang yang lebih tua tidak ada, maka dia akan menempatkan orangtuanya di panti jompo dan membiarkannya merana di rumah jompo itu tanpa dihiraukan keberadaannya lagi. Rasa hormat pada orang tua akan menumbuhkan sikap taat dan patuh pada nasehat dan sarannya. Sikap hormat ini akan menjadikan anak meyakini dan mengikuti ajaran atau pendidikan yang diberikan orang yang lebih tua sebagai orang yang lebih tahu dan banyak pengalaman.
Rasa sayang pada anak sebaya atau yang lebih muda akan menumbuhkan sikap saling tolong-menolong dan tidak menyakiti satu sama lain. Baik menyakiti fisik maupun psikis. Rasa hormat pada anak sebaya atau yang lebih muda akan menumbuhkan rasa saling menghargai, tidak menganggap satu dengan lainnnya lebih tua, lebih pintar, lebih kaya, atau patut mendapat penghormatan berlebihan dari yang lebih rendah posisi dan usianya.
Pendidikan pekerti atau rasa sayang dan sikap hormat ini dapat dilakukan oleh orangtua di rumah dengan memberikan pengetahuan dan ajaran pekerti ini, sekaligus memberikan contoh yang baik dari orangtua. Contoh dan pengajaran yang baik bukan hanya dilakukan oleh ibu tapi juga bapak, sehingga perempuan bekerja dapat mengajukan usulan untuk mengatur pola waktu dan perhatian pada anak dengan suaminya.
Pendidikan di sekolah bisa dilakukan para guru. Pendidikan di sekolah dapat dilakukan dengan pemberian materi pekerti dan contoh yang baik seperti halnya pendidikan yang dilakukan para orang tua. Pendidikan juga dapat dilakukan oleh masyarakat berupa pembinaan nonformal dalam bentuk pelatihan atau diskusi. Masyarakat bisa mendidik anak secara langsung berupa pemberitan teguran yang arif dan bijaksana pada anak jika masyarakat melihat secara langsung sikap dan perilaku anak yang menyimpang dari pekerti yang baik. Masyarakat semestinya menganggap anak-anak orang lain juga merupakan bagian darinya karena mereka juga tidak bisa lepas dari ikatan sosial dan emosional dengan orang lain saat bermasyarakat.
Teguran dan nasehat langsung dari masyarakat merupakan contoh yang baik bagi anak bahwa anak mendapat penghargaan dan perhatian masyarakat yang cukup dari orang sekitarnya. Anak mendapat contoh realisasi pekerti yang baik dari masyarakat, berupa rasa sayang dan hormat antaranggota masyarakat, meskipun ikatan itu terjadi antara anak dan orang dewasa.
Pembinaan di Masyarakat
Pendidikan pekerti berupa rasa sayang dan hormat pada anak juga bisa dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk pembinaan. Bentuk pendidikan nonformal di masyarakat seperti pelatihan atau diskusi dapat dilakukan masyarakat dalam upaya membina anak-anak.
Materi pendidikan dalam pembinaan di masyarakat dapat berupa: cerita atau sejarah yang telah terjadi. Cerita atau sejarah ini agar bisa diambil pelajaran untuk melatih rasa sayang dan hormat pada sesama. Cerita dapat diperoleh dari bahan cerita nabi, peristiwa saat ini di belahan dunia, persitiwa teman atau diri sendiri. Metode yang dipakai dalam bercerita tentang Nabi atau peristiwa sekitar tidak melulu disajikan dalam bentuk ceramah, tetapi bisa juga dalam film atau CD, bisa juga dalam bentuk membacakan cerita dan dongeng. Untuk cerita teman atau diri sendiri masing-masing dari mereka bisa bercerita di depan teman-temannya. Ini juga bisa melatih keberanian untuk tampil dan belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan anak-anak.
Materi pembinaan lainnya adalah permainan yang mendidik; keakraban dengan berkunjung dari rumah anak satu ke rumah anak lainnnya. Saling memberi kenang-kenangan berupa barang dengan harga yang sangat terjangkau. Memberikan hukuman dan hadiah dari pembina bagi anak yang bisa merealisasikan rasa sayang dan hormat pada temannya.
Pembinaan ini dapat dilakukan di alam terbuka, masjid atau rumah yang cukup luas halamannya. Keluasan lahan pembinaan juga cukup menentukan perasaan anak-anak untuk bisa menikmati pembinaan ini. Pelaksanaan dapat dilakukan seminggu atau sebulan sekali. Pembinaan ini diharapkan sebagai media refreshing, belajar sambil bermain, untuk menghilangkan rasa jenuh setelah mereka penat belajar di sekolah selama berhari-hari, tetapi mereka tetap mendapat hal-hal yang bermanfaat dari pembinaan ini.
Efektifitas pembinaan ini dapat dilakukan melalaui evaluasi berupa kuis dan penilaian sikap sehari-hari. Jika ternyata masih terdapat anak yang belum bisa dinilai berhasil menyerap pembinaan ini, anak dapat dibina dengan pendekatan individual. Diajak berbicara dengan penuh kasih sayang untuk mengetahui hambatan kemampuannya menerima dan mengekspresikan nilai-nilai yang diajarkan.
(Penulis, Dosen Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung, Ketua Lembaga Kebudayaan PW ‘Aisyiyah Jawa Barat)
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 16 (24 April 2009)
Saat ini perilaku anak-anak dan remaja kita menunjukkan hal-hal yang sangat mengkhawatirkan. Penanaman budi pekerti menjadi dipertanyakan. Selanjutnya orang tua, guru dan masyarakat mulai mencari kambing hitam.
Mereka mempermasalahkan peran dan fungsi media elektronik yang canggih yang telah mengoyak mentalitas anak untuk memiliki pekerti baik berupa rasa sayang dan hormat. Mereka mempersalahkan tayangan televisi, internet, dan HP yang telah merenggut pekerti yang baik berupa rasa sayang dan hormat dari hati sanubari mereka. Padahal bukankah media elektronik yang canggih itu merupakan pisau bermata dua, di samping memiliki nilai negatif tetapi di sisi lain ia juga memiliki banyak nilai positif? Selain itu, kaum perempuan bekerja juga kena sorotan, mereka dianggap menjadi salah satu penyebab merosotnya moral anak-anak. Patutkah kaum perempuan bekerja dipersalahkan?
Rasa sayang dan hormat adalah dua jenis nilai dalam pekerti yang paling mendasar untuk membina pergaulan yang baik antar sesama. Dua jenis pekerti ini bisa dimiliki siapa saja tanpa perlu membutuhkan kecerdasan intelektual yang baik, karena anak yang cerdas otaknya belum tentu memiliki rasa sayang dan hormat atau belum tentu memiliki pekerti yang baik.
Sayang dan sikap hormat merupakan bentuk kecerdasan emosional dan spiritual seseorang. Dua kecerdasan ini merupakan faktor yang sangat penting dan menunjang keberhasilan dan kebahagiaan seseorang. Bukan hanya kebahagiaan di dunia, tetapi juga di akhirat. Seseorang yang cerdas otaknya belum tentu bisa meraih keberuntungan di dunia atau di akhirat, jika kecerdasan emosional dan spiritualnya rendah.
Hubungan dan sikap kepada orang lain merupakan kunci sukses keberhasilan di dunia,ini bisa diatasi dengan kecerdasan emosional. Sedangkan hubungan dan sikap kepada Tuhan merupakan kunci sukses di dunia dan akhirat. Bekal kecerdasan emosional saat berhubungan dengan orang lain agar keberhasilan dunia dapat diraih belumlah cukup. Perlu ditopang dengan kecerdasan spiritual, yaitu kekuatan Tuhan yang dapat membolak-balik perasaan hati manusia; muqallib al-Qulûb. Tuhan juga di atas segalanya, pemilik dan penentu semua kejadian. Manusia hanya bisa berusaha.
Bukan berarti kecerdasan intelektual tidak perlu. Kecerdasan intelektual tetap diperlukan karena pengetahuan dan kehidupan perlu dikembangkan juga dengan kecanggihan pikiran dan pengetahuan. Tetapi kecerdasan intelektual bukan segala-galanya. Yang terpenting adalah keberuntungan dalam hidup. Ada kalimat bijak dalam bahasa Arab : Anta mâhirun wa lâkin laysa laka hadzzun (Anda memang pintar tapi Anda belum beruntung). Keberuntungan hidup hanya akan dapat dicapai dengan memanfaatkan kecerdasan emosisonal dan spiritual dengan sebaik-baiknya.
Menanamkan Rasa Sayang dan Hormat
Menurut Ahmad Tafsir, tujuan pendidikan Islam menciptakan manusia yang sempurna, atau manusia yang taqwa, manusia beriman dan beribadah kepada Allah (2005: 51). Menurut Ahmad D. Marimba (1989: 46), tujuan pendidikan adalah terbentuknya kepribadian Muslim. Sedangkan menurut Athiyah al-Abrasyi (t.t: 113) bahwa tujuan pendidikan adalah tercapainya akhlak yang sempurna, sebagaimana dimaksudkan diutusnya Rasulullah pada umat manusia, yaitu diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Maka, pekerti dapat disosialisasikan pada anak dalam bentuk pendidikan. Kegiatan pendidikan yang memiliki tujuan sepeerti diuraikan di atas. Pendidikan ini dapat dilakukan anak sejak dalam rahim hingga menjelang akhir hayatnya. Tahapan pendidikan pekerti pada anak seperti halnya praktek pendidikan manusia pada umumnya, yaitu telah dimulai sejak anak manusia belum menjadi janin, bahkan sejak ibu dan ayahnya masih pacaran dan masih dalam tahap memilih-milih bakal calon ibu dan ayah si anak; pendidikan selanjutnya saat ayah ibu menikah, lalu melakukan senggama; pendidikan anak manusia saat menjadi janin di rahim ibunya; pendidikan anak manusia saat menjadi bayi, lalu anak-anak; dan pendidikan anak manusia menjelang remaja dan dewasa; pendidikan manusia setelah mencapai orang tua/jompo.
Ajaran pekerti yang utama dilakukan adalah rasa sayang dan sikap hormat kepada orang tua dan orang sebaya atau yang lebih muda. Mengutip sebuah hadist: laysa minnâ man lam yarham shagiranâ wa lam yuwaqqir kabîranâ (bukan merupakan golonganku (Nabi) barang siapa yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua. Hormat dan sayang perlu dilakukan anak-anak pada orang yang lebih tua). Jika rasa sayang anak-anak pada orang yang lebih tua tidak ada, maka dia akan menempatkan orangtuanya di panti jompo dan membiarkannya merana di rumah jompo itu tanpa dihiraukan keberadaannya lagi. Rasa hormat pada orang tua akan menumbuhkan sikap taat dan patuh pada nasehat dan sarannya. Sikap hormat ini akan menjadikan anak meyakini dan mengikuti ajaran atau pendidikan yang diberikan orang yang lebih tua sebagai orang yang lebih tahu dan banyak pengalaman.
Rasa sayang pada anak sebaya atau yang lebih muda akan menumbuhkan sikap saling tolong-menolong dan tidak menyakiti satu sama lain. Baik menyakiti fisik maupun psikis. Rasa hormat pada anak sebaya atau yang lebih muda akan menumbuhkan rasa saling menghargai, tidak menganggap satu dengan lainnnya lebih tua, lebih pintar, lebih kaya, atau patut mendapat penghormatan berlebihan dari yang lebih rendah posisi dan usianya.
Pendidikan pekerti atau rasa sayang dan sikap hormat ini dapat dilakukan oleh orangtua di rumah dengan memberikan pengetahuan dan ajaran pekerti ini, sekaligus memberikan contoh yang baik dari orangtua. Contoh dan pengajaran yang baik bukan hanya dilakukan oleh ibu tapi juga bapak, sehingga perempuan bekerja dapat mengajukan usulan untuk mengatur pola waktu dan perhatian pada anak dengan suaminya.
Pendidikan di sekolah bisa dilakukan para guru. Pendidikan di sekolah dapat dilakukan dengan pemberian materi pekerti dan contoh yang baik seperti halnya pendidikan yang dilakukan para orang tua. Pendidikan juga dapat dilakukan oleh masyarakat berupa pembinaan nonformal dalam bentuk pelatihan atau diskusi. Masyarakat bisa mendidik anak secara langsung berupa pemberitan teguran yang arif dan bijaksana pada anak jika masyarakat melihat secara langsung sikap dan perilaku anak yang menyimpang dari pekerti yang baik. Masyarakat semestinya menganggap anak-anak orang lain juga merupakan bagian darinya karena mereka juga tidak bisa lepas dari ikatan sosial dan emosional dengan orang lain saat bermasyarakat.
Teguran dan nasehat langsung dari masyarakat merupakan contoh yang baik bagi anak bahwa anak mendapat penghargaan dan perhatian masyarakat yang cukup dari orang sekitarnya. Anak mendapat contoh realisasi pekerti yang baik dari masyarakat, berupa rasa sayang dan hormat antaranggota masyarakat, meskipun ikatan itu terjadi antara anak dan orang dewasa.
Pembinaan di Masyarakat
Pendidikan pekerti berupa rasa sayang dan hormat pada anak juga bisa dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk pembinaan. Bentuk pendidikan nonformal di masyarakat seperti pelatihan atau diskusi dapat dilakukan masyarakat dalam upaya membina anak-anak.
Materi pendidikan dalam pembinaan di masyarakat dapat berupa: cerita atau sejarah yang telah terjadi. Cerita atau sejarah ini agar bisa diambil pelajaran untuk melatih rasa sayang dan hormat pada sesama. Cerita dapat diperoleh dari bahan cerita nabi, peristiwa saat ini di belahan dunia, persitiwa teman atau diri sendiri. Metode yang dipakai dalam bercerita tentang Nabi atau peristiwa sekitar tidak melulu disajikan dalam bentuk ceramah, tetapi bisa juga dalam film atau CD, bisa juga dalam bentuk membacakan cerita dan dongeng. Untuk cerita teman atau diri sendiri masing-masing dari mereka bisa bercerita di depan teman-temannya. Ini juga bisa melatih keberanian untuk tampil dan belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan anak-anak.
Materi pembinaan lainnya adalah permainan yang mendidik; keakraban dengan berkunjung dari rumah anak satu ke rumah anak lainnnya. Saling memberi kenang-kenangan berupa barang dengan harga yang sangat terjangkau. Memberikan hukuman dan hadiah dari pembina bagi anak yang bisa merealisasikan rasa sayang dan hormat pada temannya.
Pembinaan ini dapat dilakukan di alam terbuka, masjid atau rumah yang cukup luas halamannya. Keluasan lahan pembinaan juga cukup menentukan perasaan anak-anak untuk bisa menikmati pembinaan ini. Pelaksanaan dapat dilakukan seminggu atau sebulan sekali. Pembinaan ini diharapkan sebagai media refreshing, belajar sambil bermain, untuk menghilangkan rasa jenuh setelah mereka penat belajar di sekolah selama berhari-hari, tetapi mereka tetap mendapat hal-hal yang bermanfaat dari pembinaan ini.
Efektifitas pembinaan ini dapat dilakukan melalaui evaluasi berupa kuis dan penilaian sikap sehari-hari. Jika ternyata masih terdapat anak yang belum bisa dinilai berhasil menyerap pembinaan ini, anak dapat dibina dengan pendekatan individual. Diajak berbicara dengan penuh kasih sayang untuk mengetahui hambatan kemampuannya menerima dan mengekspresikan nilai-nilai yang diajarkan.
(Penulis, Dosen Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung, Ketua Lembaga Kebudayaan PW ‘Aisyiyah Jawa Barat)
Rahasia Senyuman Nabi Muhammad Saw.
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 15 (17 April 2009)
Ketika kita membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad Saw., kita tidak akan pernah berhenti kagum akan kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau. Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya, dan sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad Saw. dalam dakwah dan perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam. Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok penghalang di antara anak manusia! Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam al Qur’an tentang kisah Nabi Sulaiman a.s., ketika Ia berkata kepada seekor semut, “Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS. an Naml [27]: 19).
Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Muhammad Saw., dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya. Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun.
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Saw. tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.” Suatu ketika Muhammad saw didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad Saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka. Ka’ab r.a. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka: “Saya mendatangi Muhammad ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.”
Suatu ketika Muhammad melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka. Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci ini, sampai akhir detik-detik hayat beliau.
Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Ketika kaum muslimin berada dalam salat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf saalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!” Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabat-sahabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya!
Menyentuh Hati
Muhammad Saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan, beliau bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (at Tirmidzi).
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek beliau langsung. Namun kita masih banyak melihat sebagian manusia masih berlaku keras terhadap anggota keluarganya, terhadap rumah tangganya dengan tidak menebar senyuman dari bibir dan dari ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian manusia –karena bersikap cemberut dan muka masam— mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! Sungguh jauh mereka dari contoh Nabi Muhammad saw.!
Ya, kadang kita melewati jam-jam kita dengan dirundung duka, atau disibukkan beragam pekerjaan. Namun, kita selalu bermuka masam, cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah. Maka demi Allah, ini adalah perilaku keras hati yang semestinya tidak terjadi. Wal iyadzubillah.
Pengaruh Senyum
Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyum mengaitkan dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengaitkan boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi Saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai senyuman sangat besar pengaruhnya. Dale Carnegie dalam bukunya, “Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia” menceritakan: “Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”
Ia melanjutkan, “Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, “Saya pilih tersenyum kepada istriku, ia tidak tahu sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayanan- terhadap saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.”
Kegembiraan meluap ketika Carnegie menambahkan, “Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, akan tetapi membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.”
Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang mulia ini kepada umat. Dengan niat pendekatan diri kepada Allah Swt. lewat senyuman, dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan senyuman, menahan sedekah ini, dengan selalu bermuka masam dan cemberut dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar. Orang yang selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam berarti mengharamkan menikmati dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau menebar senyum, selamanya ia akan senang dan gembira. Wallahu a’lam`
(Disadur ulang dari forum_jimm dalam miling list muhammadiyah society yang dikirim oleh "Ponpes Al Rahmah")
Edisi 15 (17 April 2009)
Ketika kita membuka lembaran sirah kehidupan Muhammad Saw., kita tidak akan pernah berhenti kagum akan kemuliaan dan kebesaran pribadi beliau. Sisi kebesaran itu terlihat dari sikap seimbang dan selaras dalam setiap perilakunya, dan sikap beliau dalam menggunakan segala sarana untuk meluluhkan kalbu setiap orang dalam setiap kesempatan.
Sarana paling besar yang dilakukan Muhammad Saw. dalam dakwah dan perilaku beliau adalah, gerakan yang tidak membutuhkan biaya besar, tidak membutuhkan energi berlimpah, meluncur dari bibir untuk selanjutnya masuk ke relung kalbu yang sangat dalam. Jangan Anda tanyakan efektifitasnya dalam mempengaruhi akal pikiran, menghilangkan kesedihan, membersihkan jiwa, menghancurkan tembok penghalang di antara anak manusia! Itulah ketulusan yang mengalir dari dua bibir yang bersih, itulah senyuman!
Itulah senyuman yang direkam al Qur’an tentang kisah Nabi Sulaiman a.s., ketika Ia berkata kepada seekor semut, “Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh” (QS. an Naml [27]: 19).
Senyuman itulah yang senantiasa keluar dari bibir mulia Muhammad Saw., dalam setiap perilakunya. Beliau tersenyum ketika bertemu dengan sahabatnya. Saat beliau menahan amarah atau ketika beliau berada di majelis peradilan sekalipun.
Diriwayatkan dari Jabir dalam sahih Bukhari dan Muslim, berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah Saw. tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.” Suatu ketika Muhammad saw didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal! Muhammad Saw. menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”
Ketika beliau memberi hukuman keras terhadap orang-orang yang terlambat dan tidak ikut serta dalam perang Tabuk, beliau masih tersenyum mendengarkan alasan mereka. Ka’ab r.a. berkata setelah mengungkapkan alasan orang-orang munafik dan sumpah palsu mereka: “Saya mendatangi Muhammad ketika saya mengucapkan salam kepadanya, beliau tersenyum, senyuman orang yang marah. Kemudian beliau berkata, “Kemari. Maka saya mendekati beliau dan duduk di depan beliau.”
Suatu ketika Muhammad melintasi masjid yang di dalamnya ada beberapa sahabat yang sedang membicarakan masalah-masalah jahiliyah terdahulu, beliau lewat dan tersenyum kepada mereka. Beliau tersenyum dari bibir yang lembut, mulia nan suci ini, sampai akhir detik-detik hayat beliau.
Anas bin Malik berkata diriwayatkan dalam sahih Bukhari dan Muslim, “Ketika kaum muslimin berada dalam salat fajar, di hari Senin, sedangkan Abu Bakar menjadi imam mereka, ketika itu mereka dikejutkan oleh Muhammad yang membuka hijab kamar Aisyah. Beliau melihat kaum muslimin sedang dalam shaf saalat, kemudian beliau tersenyum kepada mereka!” Sehingga tidak mengherankan beliau mampu meluluhkan kalbu sahabat-sahabatnya, istri-istrinya dan setiap orang yang berjumpa dengannya!
Menyentuh Hati
Muhammad Saw. telah meluluhkan hati siapa saja dengan senyuman. Beliau mampu “menyihir” hati dengan senyuman. Beliau menumbuhkan harapan dengan senyuman. Beliau mampu menghilangkan sikap keras hati dengan senyuman. Dan beliau mensunnahkan dan memerintahkan umatnya agar menghiasi diri dengan akhlak mulia ini. Bahkan beliau menjadikan senyuman sebagai lahan berlomba dalam kebaikan, beliau bersabda, “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.” (at Tirmidzi).
Meskipun sudah sangat jelas dan gamblang petunjuk Nabi dan praktek beliau langsung. Namun kita masih banyak melihat sebagian manusia masih berlaku keras terhadap anggota keluarganya, terhadap rumah tangganya dengan tidak menebar senyuman dari bibir dan dari ketulusan hatinya.
Anda merasakan bahwa sebagian manusia –karena bersikap cemberut dan muka masam— mengira bahwa giginya bagian dari aurat yang harus ditutupi! Di mana mereka di depan petunjuk Nabi yang agung ini! Sungguh jauh mereka dari contoh Nabi Muhammad saw.!
Ya, kadang kita melewati jam-jam kita dengan dirundung duka, atau disibukkan beragam pekerjaan. Namun, kita selalu bermuka masam, cemberut dan menahan senyuman yang merupakan sedekah. Maka demi Allah, ini adalah perilaku keras hati yang semestinya tidak terjadi. Wal iyadzubillah.
Pengaruh Senyum
Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyum mengaitkan dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengaitkan boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi Saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah.
Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai senyuman sangat besar pengaruhnya. Dale Carnegie dalam bukunya, “Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia” menceritakan: “Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”
Ia melanjutkan, “Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, “Saya pilih tersenyum kepada istriku, ia tidak tahu sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayanan- terhadap saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.”
Kegembiraan meluap ketika Carnegie menambahkan, “Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, akan tetapi membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.”
Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang mulia ini kepada umat. Dengan niat pendekatan diri kepada Allah Swt. lewat senyuman, dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan senyuman, menahan sedekah ini, dengan selalu bermuka masam dan cemberut dalam kehidupan.
Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman, yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar. Orang yang selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam berarti mengharamkan menikmati dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau menebar senyum, selamanya ia akan senang dan gembira. Wallahu a’lam`
(Disadur ulang dari forum_jimm dalam miling list muhammadiyah society yang dikirim oleh "Ponpes Al Rahmah"
Transformasi Kesalehan dalam Politik (II)
Oleh Hendar Riyadi
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 14 (10 April 2009)
Spiritualitas Kekuasaan
Perebutan kekuasaan pada dirinya memiliki nilai positif bila didasarkan pada otoritas. Sebaliknya, dapat bernilai negatif, bahkan mungkin akan menjadi suatu kejahatan bila perebutan kekuasaan tersebut tanpa berdasar otoritas. Apa yang dimaksud dengan otoritas (authority), bukan kewenangan atau kuasa untuk memerintah. Dalam pemahaman ini, mungkin semua orang berhak berkuasa. Tapi, makna otoritas yang dimaksudkan, sebagaimana makna aslinya adalah suatu dasar yang kuat untuk mengetahui dan bertindak (Pritjof Capra, 2009: 103). Dalam pengertian terakhir ini, dasar perebutan kekuasaan adalah kharisma, moralitas, pengetahuan, kebijaksanaan dan pengalaman mengarahkan tindakan masyarakat secara bijaksana dan efektif. Atas dasar itu, maka masyarakat akan memberikan “jubah kekuasaan” untuk kewenangan memerintah. Itulah dasar kekuasaan yang secara sosial dan kultural bersifat dan berdampak positif, karena di dalam dirinya sendiri ada nilai etis dan estetis. Namun, terkadang dan malah ini yang kerapkali terjadi, otoritas sejati tersebut telah berganti dengan pengendalian kuasa uang. Dalam realitas kuasa uang, “legitimasi otoritas” menjadi kurang dipertimbangkan, karena semua kuasa dapat dibeli dan dikendalikan oleh uang. Maka merebaklah kontrak-kontrak politik yang bernilai pragmatis untuk sebuah jabatan dan kekuasaan.
Lalu, bagaimana dengan agama sendiri dalam mendudukan kekuasaan itu? Pertanyaan ini penting dalam rangka merumuskan apa yang penulis sebut dengan “spiritualitas kekuasaan”. Suatu prinsip nilai yang menjadi kaidah dan norma dalam persaingan dan perebutan kekuasaan. Dalam agama, kehendak untuk berkuasa serta bersaing memperebutkan kekuasaan, tidaklah dilarang. Bahkan agama itu sendiri membutuhkan perebutan kekuasaan (relasi kuasa). Sebab, tanpa kekuasaan (baik kuasa politik maupun kuasa ekonomi), agama pun sulit untuk dipertahankan. Hanya saja, dalam masalah persaingan dan perebutan kekuasaan tersebut, agama memberikan kaidah-kaidah dan norma-norma yang harus diikuti dalam rangka menjaga nilai kesucian dari kekuasaan itu sendiri.
Kaidah dan norma agama tentang kekuasaan tersebut adalah bahwa perebutan kekuasaan harus diorientasikan untuk penegakan dan didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan peradaban. Hal ini merujuk kepada teladan luhur yang dipesankan Al-Quran surat al-An’am ayat 151-153: “Katakanlah: Mari kubacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Janganlah mempersekutukan-Nya dengan apapun; dan berbuatlah baik kepada ibu-bapakmu; janganlah membunuh anak-anakmu karena dalih kemiskinan. Kami memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Janganlah lakukan perbuatan keji yang terbuka ataupun yang tersembunyi; janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan adil dan menurut hukum. Demikian Dia memerintahkan kamu supaya kamu mengerti. Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali untuk memperbaikinya dengan cara yang lebih baik, sampai ia mencapai usia dewasa. Penuhilah takaran dan neraca dengan adil; Kami tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya; dan bila kamu berbicara, bicarah sejujurnya sekalipun mengenai kerabat; dan penuhilah janji dengan Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kamu supaya kamu ingat”. Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), sehingga menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.
Menurut Muhammad Syahrur (2002: 36-40) dan M. Quraish Shihab (2003: 237), ayat di atas berisi sepuluh wasiat Tuhan. Wasiat pertama adalah tauhid, lâ tusyrikû bihi syai`a (janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan apapun). Wasiat kedua, berbuat baik kepada kedua orang tua (wa bi al-wâlidaini ihsâna). Wasiat ketiga, jangan membunuh anak karena takut miskin (wa lâ taqtulû awlâdakum min imlâq). Wasiat keempat, jangan mendekati kekejian, baik yang tampak ataupun tersembunyi (wa lâ taqrabû al-fawâhisya mâ zhahara minhâ wa mâ bathana). Wasiat kelima, jangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan sebab yang benar (wa lâ taqtulû al-nafsa al-ladzî harrama Allâhu illâ bi al-haq). Wasiat keenam, jangan mendekati harta anak yatim kecuali demi kebaikan (wa lâ taqrabû mâla al-yatîma illâ bi al-latî hiya ahsan). Wasiat ketujuh, memenuhi takaran dan timbangan dengan adil (wa awfû al-kayla wa al-mîzâna bi al-qisthi). Wasiat kedelapan, berkata yang adil walaupun kepada kerabat (wa idzâ qultum fa’dilû walaw kâna dzâ qurbâ). Wasiat kesembilan, memenuhi janji Allah (wa bi ‘ahdi Allâhi awfûi). Wasiat kesepuluh, mengikuti jalan Tuhan dan tidak mengikuti jalan-jalan yang lain (wa anna hadzâ shirâthî mustaqîmâ fa al-tabi’ûhu wa lâ tattabi’û al-subula).
Bila dikaitkan dengan wacana kekuasaan, kesepuluh wasiat Tuhan di atas memberikan pesan dan teladan-teladan luhur yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan wawasan spiritualitas kekuasaan. Secara umum, wasiat Tuhan di atas, dapat diturunkan menjadi tiga kaidah kekuasaan, yaitu kaidah ketuhanan (wasiat ke-1 dan 9); kaidah kemanusiaan (wasiat ke-2, 3 dan 6); dan kaidah peradaban (wasiat ke-4, 5, 7, 8 dan 10).
Kaidah pertama (ketuhanan) dimaksudkan bahwa perebutan kekuasaan harus diorientasikan sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan (tauhid). Bukan sebaliknya sebagai bentuk pembangkangan kepada Tuhan dengan menjadikan kekuasaan itu sebagai “berhala” yang menjatuhkan nilai-nilai ruhani atau spiritualitas. Kekuasaan bukanlah sebagai tujuan segalanya, melainkan hanya salah satu perwujudan pengabdian (taqarrub) kepada Allah. Dalam bahasa lain, kekuasaan hanyalah suatu usaha untuk dapat menaikkan nilai ruhani atau spiritualitas diri sehingga dapat mengelola alam/masyarakat sesuai kehendak Tuhan (mendatangkan ridha Allah dan kemaslahatan bagi kemanusiaan). Kaidah ketuhanan ini sangat penting, karena pelanggaran terhadap kaidah ini akan berdampak luas pada dimensi kemanusiaan dan peradaban.
Kaidah kedua adalah kemanusiaan. Kaidah ini dimaksudkan bahwa perebutan kekuasaan harus diorientasikan (memiliki komitmen) untuk melakukan pemihakan dan pembelaan terhadap kaum dhu’afa dan mustadh’afin (lemah, tersisih dan tertindas), serta untuk penegakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Jadi, kekuasaan bukan sekedar untuk memajukan diri dan kepentingan kelompok atau memaksakan nilai-nilai pribadi religius dan sosial kepada pihak lain, dan apalagi sekedar mengakumulasi kekayaan melalui proyek-proyek tertentu berdasar etika keserakahan. Sebaliknya, perebutan kekuasaan seharusnya diarahkan untuk pemihakan dan pembelaan kaum lemah-tertindas serta mengembalikan hak-hak sosial dan politik mereka secara berkeadilan.
Sedang kaidah kekuasaan ketiga, yakni kaidah peradaban, dimaksudkan bahwa perebutan kekuasaan harus diorientasikan (memiliki komitmen) untuk menciptakan masyarakat yang beradab dan berperadaban. Bukan sebaliknya seperti yang sekarang banyak terjadi, perebutan kekuasaan justru menciptakan masyarakat barbar (tidak beradab), di mana uang menjadi orientasi kekuasaan, ketidakjujuran menjadi sistem nilai, serta kecurangan, tipu daya dan pembunuhan karakter menjadi seni berpolitik.
Oleh karena itu, meski perebutan kekuasaan selalu mengandaikan adanya kepentingan-kepentingan lain, terlebih ekonomi, tetapi, kaidah-kaidah relasi kuasa di atas sepatutnya dipertimbangkan dalam rangka menjaga nilai kesucian atau spiritualitas dari kekuasaan tersebut. Yaitu, sebagai sarana pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sebagai upaya pembelaan kaum lemah-tertindas dan penegakan keadilan serta penciptaan masyarakat yang beradab. Suatu transformasi kesalehan di duni politik atau kekuasaan. Dengan demikian, jika kesucian kekuasaan ini menjadi pijakan sekaligus tujuan dalam perebutan kekuasaan, maka tidak seharusnya terjadi praktek saling menyerang, money politics, ketidakjujuran publik, tipu-menipu, negative campaign dan saling bunuh karakter yang tidak berketuhanan, berkemanusiaan dan tidak berperadaban. Wallahu a’lam.
(Penulis Dosen STAI Muhammadiyah, Bandung, Ketua Badan Ta'mir Masjid Raya Mujahidin)
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 14 (10 April 2009)
Spiritualitas Kekuasaan
Perebutan kekuasaan pada dirinya memiliki nilai positif bila didasarkan pada otoritas. Sebaliknya, dapat bernilai negatif, bahkan mungkin akan menjadi suatu kejahatan bila perebutan kekuasaan tersebut tanpa berdasar otoritas. Apa yang dimaksud dengan otoritas (authority), bukan kewenangan atau kuasa untuk memerintah. Dalam pemahaman ini, mungkin semua orang berhak berkuasa. Tapi, makna otoritas yang dimaksudkan, sebagaimana makna aslinya adalah suatu dasar yang kuat untuk mengetahui dan bertindak (Pritjof Capra, 2009: 103). Dalam pengertian terakhir ini, dasar perebutan kekuasaan adalah kharisma, moralitas, pengetahuan, kebijaksanaan dan pengalaman mengarahkan tindakan masyarakat secara bijaksana dan efektif. Atas dasar itu, maka masyarakat akan memberikan “jubah kekuasaan” untuk kewenangan memerintah. Itulah dasar kekuasaan yang secara sosial dan kultural bersifat dan berdampak positif, karena di dalam dirinya sendiri ada nilai etis dan estetis. Namun, terkadang dan malah ini yang kerapkali terjadi, otoritas sejati tersebut telah berganti dengan pengendalian kuasa uang. Dalam realitas kuasa uang, “legitimasi otoritas” menjadi kurang dipertimbangkan, karena semua kuasa dapat dibeli dan dikendalikan oleh uang. Maka merebaklah kontrak-kontrak politik yang bernilai pragmatis untuk sebuah jabatan dan kekuasaan.
Lalu, bagaimana dengan agama sendiri dalam mendudukan kekuasaan itu? Pertanyaan ini penting dalam rangka merumuskan apa yang penulis sebut dengan “spiritualitas kekuasaan”. Suatu prinsip nilai yang menjadi kaidah dan norma dalam persaingan dan perebutan kekuasaan. Dalam agama, kehendak untuk berkuasa serta bersaing memperebutkan kekuasaan, tidaklah dilarang. Bahkan agama itu sendiri membutuhkan perebutan kekuasaan (relasi kuasa). Sebab, tanpa kekuasaan (baik kuasa politik maupun kuasa ekonomi), agama pun sulit untuk dipertahankan. Hanya saja, dalam masalah persaingan dan perebutan kekuasaan tersebut, agama memberikan kaidah-kaidah dan norma-norma yang harus diikuti dalam rangka menjaga nilai kesucian dari kekuasaan itu sendiri.
Kaidah dan norma agama tentang kekuasaan tersebut adalah bahwa perebutan kekuasaan harus diorientasikan untuk penegakan dan didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan peradaban. Hal ini merujuk kepada teladan luhur yang dipesankan Al-Quran surat al-An’am ayat 151-153: “Katakanlah: Mari kubacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Janganlah mempersekutukan-Nya dengan apapun; dan berbuatlah baik kepada ibu-bapakmu; janganlah membunuh anak-anakmu karena dalih kemiskinan. Kami memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. Janganlah lakukan perbuatan keji yang terbuka ataupun yang tersembunyi; janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan adil dan menurut hukum. Demikian Dia memerintahkan kamu supaya kamu mengerti. Janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali untuk memperbaikinya dengan cara yang lebih baik, sampai ia mencapai usia dewasa. Penuhilah takaran dan neraca dengan adil; Kami tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya; dan bila kamu berbicara, bicarah sejujurnya sekalipun mengenai kerabat; dan penuhilah janji dengan Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kamu supaya kamu ingat”. Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), sehingga menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.
Menurut Muhammad Syahrur (2002: 36-40) dan M. Quraish Shihab (2003: 237), ayat di atas berisi sepuluh wasiat Tuhan. Wasiat pertama adalah tauhid, lâ tusyrikû bihi syai`a (janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan apapun). Wasiat kedua, berbuat baik kepada kedua orang tua (wa bi al-wâlidaini ihsâna). Wasiat ketiga, jangan membunuh anak karena takut miskin (wa lâ taqtulû awlâdakum min imlâq). Wasiat keempat, jangan mendekati kekejian, baik yang tampak ataupun tersembunyi (wa lâ taqrabû al-fawâhisya mâ zhahara minhâ wa mâ bathana). Wasiat kelima, jangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan sebab yang benar (wa lâ taqtulû al-nafsa al-ladzî harrama Allâhu illâ bi al-haq). Wasiat keenam, jangan mendekati harta anak yatim kecuali demi kebaikan (wa lâ taqrabû mâla al-yatîma illâ bi al-latî hiya ahsan). Wasiat ketujuh, memenuhi takaran dan timbangan dengan adil (wa awfû al-kayla wa al-mîzâna bi al-qisthi). Wasiat kedelapan, berkata yang adil walaupun kepada kerabat (wa idzâ qultum fa’dilû walaw kâna dzâ qurbâ). Wasiat kesembilan, memenuhi janji Allah (wa bi ‘ahdi Allâhi awfûi). Wasiat kesepuluh, mengikuti jalan Tuhan dan tidak mengikuti jalan-jalan yang lain (wa anna hadzâ shirâthî mustaqîmâ fa al-tabi’ûhu wa lâ tattabi’û al-subula).
Bila dikaitkan dengan wacana kekuasaan, kesepuluh wasiat Tuhan di atas memberikan pesan dan teladan-teladan luhur yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan wawasan spiritualitas kekuasaan. Secara umum, wasiat Tuhan di atas, dapat diturunkan menjadi tiga kaidah kekuasaan, yaitu kaidah ketuhanan (wasiat ke-1 dan 9); kaidah kemanusiaan (wasiat ke-2, 3 dan 6); dan kaidah peradaban (wasiat ke-4, 5, 7, 8 dan 10).
Kaidah pertama (ketuhanan) dimaksudkan bahwa perebutan kekuasaan harus diorientasikan sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan (tauhid). Bukan sebaliknya sebagai bentuk pembangkangan kepada Tuhan dengan menjadikan kekuasaan itu sebagai “berhala” yang menjatuhkan nilai-nilai ruhani atau spiritualitas. Kekuasaan bukanlah sebagai tujuan segalanya, melainkan hanya salah satu perwujudan pengabdian (taqarrub) kepada Allah. Dalam bahasa lain, kekuasaan hanyalah suatu usaha untuk dapat menaikkan nilai ruhani atau spiritualitas diri sehingga dapat mengelola alam/masyarakat sesuai kehendak Tuhan (mendatangkan ridha Allah dan kemaslahatan bagi kemanusiaan). Kaidah ketuhanan ini sangat penting, karena pelanggaran terhadap kaidah ini akan berdampak luas pada dimensi kemanusiaan dan peradaban.
Kaidah kedua adalah kemanusiaan. Kaidah ini dimaksudkan bahwa perebutan kekuasaan harus diorientasikan (memiliki komitmen) untuk melakukan pemihakan dan pembelaan terhadap kaum dhu’afa dan mustadh’afin (lemah, tersisih dan tertindas), serta untuk penegakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Jadi, kekuasaan bukan sekedar untuk memajukan diri dan kepentingan kelompok atau memaksakan nilai-nilai pribadi religius dan sosial kepada pihak lain, dan apalagi sekedar mengakumulasi kekayaan melalui proyek-proyek tertentu berdasar etika keserakahan. Sebaliknya, perebutan kekuasaan seharusnya diarahkan untuk pemihakan dan pembelaan kaum lemah-tertindas serta mengembalikan hak-hak sosial dan politik mereka secara berkeadilan.
Sedang kaidah kekuasaan ketiga, yakni kaidah peradaban, dimaksudkan bahwa perebutan kekuasaan harus diorientasikan (memiliki komitmen) untuk menciptakan masyarakat yang beradab dan berperadaban. Bukan sebaliknya seperti yang sekarang banyak terjadi, perebutan kekuasaan justru menciptakan masyarakat barbar (tidak beradab), di mana uang menjadi orientasi kekuasaan, ketidakjujuran menjadi sistem nilai, serta kecurangan, tipu daya dan pembunuhan karakter menjadi seni berpolitik.
Oleh karena itu, meski perebutan kekuasaan selalu mengandaikan adanya kepentingan-kepentingan lain, terlebih ekonomi, tetapi, kaidah-kaidah relasi kuasa di atas sepatutnya dipertimbangkan dalam rangka menjaga nilai kesucian atau spiritualitas dari kekuasaan tersebut. Yaitu, sebagai sarana pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sebagai upaya pembelaan kaum lemah-tertindas dan penegakan keadilan serta penciptaan masyarakat yang beradab. Suatu transformasi kesalehan di duni politik atau kekuasaan. Dengan demikian, jika kesucian kekuasaan ini menjadi pijakan sekaligus tujuan dalam perebutan kekuasaan, maka tidak seharusnya terjadi praktek saling menyerang, money politics, ketidakjujuran publik, tipu-menipu, negative campaign dan saling bunuh karakter yang tidak berketuhanan, berkemanusiaan dan tidak berperadaban. Wallahu a’lam.
(Penulis Dosen STAI Muhammadiyah, Bandung, Ketua Badan Ta'mir Masjid Raya Mujahidin)
Transformasi Kesalehan dalam Politik (I)
Oleh : Hendar Riyadi
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 13 (03 April 2009)
Setiap manusia memiliki naluri, hasrat, keinginan, dan kehendak untuk berkuasa atau melakukan dominasi (penguasaan terhadap yang lain). Kehendak berkuasa atau dominasi ini, berlaku dalam seluruh bidang kehidupan : dunia kerja, pendidikan, organisasi, perdangangan, termasuk dalam keluarga dan terlebih dalam politik. Dalam bidang politik, sebuah partai selalu menghendaki untuk melakukan dominasi terhadap partai yang lain dalam merebut simpati dan suara masyarakat. Bahkan setiap orang dalam satu partai sekalipun, selalu melakukan dominasi antara satu dengan yang lainnya. Demikian pula dalam aspek kehidupan lainnya, kehendak untuk berkuasa dan dominasi tersebut selalu terjadi. Itulah sebabnya, manusia selalu disebut sebagai “makhluk kekuasaan” atau meminjam istilah Aristoteles sebagai political animal (Henry J. Schmandt, 2005: 3). Artinya, secara fitrah manusia itu memiliki naluri, hasrat, keinginan dan kehendak untuk berkuasa atau melakukan dominasi. Bentuk kehendak berkuasa atau dominasi tersebut sangat bervariasi; ada dalam bentuk aksi berupa tindakan represif (kekerasan) atau tindakan penguasaan yang lain; ada dalam bentuk kata-kata atau ungkapan yang bersifat hegemonik (bahasa kuasa), dan ada juga dalam bentuk ide, opini atau politik wacana (discourse political domains).
Dalam dunia saling kuasa dan dominasi—karena setiap orang berkeinginan dan berkehendak untuk berkuasa atau melakukan dominasi terhadap yang lainnya—maka persaingan (competition) atau perebutan kekuasaan merupakan suatu yang tak dapat dihindarkan. Setiap orang akan mencari bagaimana cara berkuasa dan cara menguasai (dominasi) yang lain. Disinilah berlaku hukum kekuatan (struggle for live), yakni siapa yang kuat, maka dialah yang memenangkan persaingan, berkuasa dan melakukan dominasi. Sebaliknya, mereka yang kalah dalam persaingan, harus menerima atau dengan terpaksa tunduk dan dikuasai yang lain. Tetapi, karena kehendak berkuasa atau dominasi itu tidak hilang bersama dengan kekakalahan, maka tentu yang kalah dalam bersaing akan terus berupaya mencari cara berkuasa dan cara menguasai kembali untuk memenangkan persaingan berikutnya. Karena itu, dunia kuasa dan dominasi akan tetap mensyaratkan adanya persaingan dan perebutan kekuasaan.
Tiga Kuasa Politik
Perebutan kekuasaan atau dominasi, terutama dalam dunia politik, biasanya berlangsung sangat keras. Sikut-menyikut, tonjok-menonjok, sogok-menyogok (money politics), bakar-membakar, bahkan tipu-menipu, tusuk-menusuk dan saling bunuh kerapkali terjadi. Pendek kata, bagi orang atau kelompok tertentu, segala cara biasanya dilakukan dalam mendapatkan kekuasaan tersebut.
Ada tiga kekuatan atau kuasa penting yang selalu menjadi andalan penentu dalam persaingan perebutan kekuasaan dan dominasi, yaitu kuasa fisik, uang, dan legitimasi (pembenaran). Kuasa fisik dan legitimasi (baik dari otoritas keagamaan maupun masyarakat) merupakan persyaratan penting untuk dapat berkuasa dan melakukan dominasi. Sebab, tanpa kekuatan fisik dan legitimasi, suatu kuasa atau dominasi akan sulit diwujudkan. Tetapi, meski demikian dari ketiga kuasa tersebut, uanglah barangkali yang pada saat ini merupakan satu-satunya paling menentukan. Semua hal dapat dibeli dan diciptakan dengan uang, termasuk kekuasaan (jabatan).
Lalu, untuk apa sebenarnya orang memiliki keinginan atau kehendak untuk berkuasa dan melakukan dominasi? Jawabannya bermacam-macam. Tetapi, secara umum, kekuasaan akan selalu dikejar setiap orang, karena kekuasaan, selain dapat memberikan harapan untuk mengambil manfaat yang besar, baik secara sosial, politis dan terlebih secara ekonomi, juga dapat mengatasi kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan.
Jadi, keinginan memiliki kekuasaan adalah karena dengan berkuasa, orang akan memiliki kemudahan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, dan menolak apa yang tidak diinginkannya. Tentu, fasilitas-fasilitas kemudahan ini akan berbeda penggunaannya pada setiap orang, tergantung pada orientasinya. Bagi mereka yang berorientasi materi dan status sosial, maka mereka akan memperoleh fasilitas kemudahan dalam mencari kekayaan dan proyek-proyek yang menghasilkan uang serta dapat meningkatkan status sosialnya.
Karena itu, kekuasaan (jabatan politis) biasanya sangat identik dengan proyek dan uang. Dalam konteks ini, kekuasaan akan selalu dikejar dan diperebutkan, karena memberikan fasilitas kemudahan dalam memperoleh kekayaan dan proyek-proyek tertentu yang beruang. Dalam konteks ini pula, perebutan kekuasaan biasanya mengabaikan norma-norma agama, norma kemanusiaan dan norma peradaban.(bersambung edisi depan)
(Dosen STAI Muhammadiyah Bandung, Ketua Badan Ta'mir Masjid Raya Mujahidin)
Diterbitkan dalam Buletin Gema Mujahidin
Edisi 13 (03 April 2009)
Setiap manusia memiliki naluri, hasrat, keinginan, dan kehendak untuk berkuasa atau melakukan dominasi (penguasaan terhadap yang lain). Kehendak berkuasa atau dominasi ini, berlaku dalam seluruh bidang kehidupan : dunia kerja, pendidikan, organisasi, perdangangan, termasuk dalam keluarga dan terlebih dalam politik. Dalam bidang politik, sebuah partai selalu menghendaki untuk melakukan dominasi terhadap partai yang lain dalam merebut simpati dan suara masyarakat. Bahkan setiap orang dalam satu partai sekalipun, selalu melakukan dominasi antara satu dengan yang lainnya. Demikian pula dalam aspek kehidupan lainnya, kehendak untuk berkuasa dan dominasi tersebut selalu terjadi. Itulah sebabnya, manusia selalu disebut sebagai “makhluk kekuasaan” atau meminjam istilah Aristoteles sebagai political animal (Henry J. Schmandt, 2005: 3). Artinya, secara fitrah manusia itu memiliki naluri, hasrat, keinginan dan kehendak untuk berkuasa atau melakukan dominasi. Bentuk kehendak berkuasa atau dominasi tersebut sangat bervariasi; ada dalam bentuk aksi berupa tindakan represif (kekerasan) atau tindakan penguasaan yang lain; ada dalam bentuk kata-kata atau ungkapan yang bersifat hegemonik (bahasa kuasa), dan ada juga dalam bentuk ide, opini atau politik wacana (discourse political domains).
Dalam dunia saling kuasa dan dominasi—karena setiap orang berkeinginan dan berkehendak untuk berkuasa atau melakukan dominasi terhadap yang lainnya—maka persaingan (competition) atau perebutan kekuasaan merupakan suatu yang tak dapat dihindarkan. Setiap orang akan mencari bagaimana cara berkuasa dan cara menguasai (dominasi) yang lain. Disinilah berlaku hukum kekuatan (struggle for live), yakni siapa yang kuat, maka dialah yang memenangkan persaingan, berkuasa dan melakukan dominasi. Sebaliknya, mereka yang kalah dalam persaingan, harus menerima atau dengan terpaksa tunduk dan dikuasai yang lain. Tetapi, karena kehendak berkuasa atau dominasi itu tidak hilang bersama dengan kekakalahan, maka tentu yang kalah dalam bersaing akan terus berupaya mencari cara berkuasa dan cara menguasai kembali untuk memenangkan persaingan berikutnya. Karena itu, dunia kuasa dan dominasi akan tetap mensyaratkan adanya persaingan dan perebutan kekuasaan.
Tiga Kuasa Politik
Perebutan kekuasaan atau dominasi, terutama dalam dunia politik, biasanya berlangsung sangat keras. Sikut-menyikut, tonjok-menonjok, sogok-menyogok (money politics), bakar-membakar, bahkan tipu-menipu, tusuk-menusuk dan saling bunuh kerapkali terjadi. Pendek kata, bagi orang atau kelompok tertentu, segala cara biasanya dilakukan dalam mendapatkan kekuasaan tersebut.
Ada tiga kekuatan atau kuasa penting yang selalu menjadi andalan penentu dalam persaingan perebutan kekuasaan dan dominasi, yaitu kuasa fisik, uang, dan legitimasi (pembenaran). Kuasa fisik dan legitimasi (baik dari otoritas keagamaan maupun masyarakat) merupakan persyaratan penting untuk dapat berkuasa dan melakukan dominasi. Sebab, tanpa kekuatan fisik dan legitimasi, suatu kuasa atau dominasi akan sulit diwujudkan. Tetapi, meski demikian dari ketiga kuasa tersebut, uanglah barangkali yang pada saat ini merupakan satu-satunya paling menentukan. Semua hal dapat dibeli dan diciptakan dengan uang, termasuk kekuasaan (jabatan).
Lalu, untuk apa sebenarnya orang memiliki keinginan atau kehendak untuk berkuasa dan melakukan dominasi? Jawabannya bermacam-macam. Tetapi, secara umum, kekuasaan akan selalu dikejar setiap orang, karena kekuasaan, selain dapat memberikan harapan untuk mengambil manfaat yang besar, baik secara sosial, politis dan terlebih secara ekonomi, juga dapat mengatasi kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan.
Jadi, keinginan memiliki kekuasaan adalah karena dengan berkuasa, orang akan memiliki kemudahan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, dan menolak apa yang tidak diinginkannya. Tentu, fasilitas-fasilitas kemudahan ini akan berbeda penggunaannya pada setiap orang, tergantung pada orientasinya. Bagi mereka yang berorientasi materi dan status sosial, maka mereka akan memperoleh fasilitas kemudahan dalam mencari kekayaan dan proyek-proyek yang menghasilkan uang serta dapat meningkatkan status sosialnya.
Karena itu, kekuasaan (jabatan politis) biasanya sangat identik dengan proyek dan uang. Dalam konteks ini, kekuasaan akan selalu dikejar dan diperebutkan, karena memberikan fasilitas kemudahan dalam memperoleh kekayaan dan proyek-proyek tertentu yang beruang. Dalam konteks ini pula, perebutan kekuasaan biasanya mengabaikan norma-norma agama, norma kemanusiaan dan norma peradaban.(bersambung edisi depan)
(Dosen STAI Muhammadiyah Bandung, Ketua Badan Ta'mir Masjid Raya Mujahidin)
Rabu, Maret 25, 2009
Mengcopy Sang Nabi
Oleh: Jamjam Erawan
Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 12 <27 Maret 2009>
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al Ahzab [33]: 21).
Setiap kali memasuki bulan Rabi’ul Awwal. Kaum muslimin diingatkan akan hari kelahiran manusia agung yang bernama Muhammad. Karena pada bulan inilah beliau dilahirkan, tepatnya pada minggu kedua bulan Rabi’ul Awwal Tahun Gajah atau bulan April 580 masehi di kota Mekkah.
Kehidupan Muhammad Saw. sejak kecil hingga akhir hayatnya telah menunjukkan suri tauladan baik yang harus diikuti dan dicontoh oleh setiap manusia sepanjang masa. Inilah makna terpenting yang harus diambil setiap kali kita bertemu dengan bulan ketiga dalam penanggalan hijriyah ini.
Dalam keyakinannya, Muhammad Saw. memiliki keyakinan yang sangat teguh, laa ilahaa illallaah; tiada Tuhan selain Allah. Dari doktrin ini Muhammad Saw. Meyakini bahwa tidak ada pencipta selain Allah Swt., tidak ada yang memberi rezeki selain Allah Swt., tidak ada yang memberi manfaat dan madharat selain Allah Swt., tidak ada yang mengatur alam semesta ini selain Allah Swt., tidak ada yang menjadi pelindung selain Allah Swt., tidak ada yang berhak menentukan hukum selain Allah Swt., tidak ada yang berhak memerintah dan melarang selain Allah Swt., tidak ada yang berhak menentukan undang-undang selain Allah Swt., tidak ada yang ditaati selain Allah Swt., dan tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt.
Dalam kehidupan peribadatannya, Muhammad Saw. senantiasa beribadah bukan hanya melaksanakan suatu peribadatan yang fardhu-formal saja, tetapi juga melakukan hal-hal yang nafilah, yaitu ibadah-ibadah tambahan. Salatnya Muhammad Saw. bukan hanya salat yang lima waktu secara teratur, tertib dan tepat waktu, tetapi juga disempurnakan dengan salat rawatib, salat malam/tahajjud, dan sesekali salat dhuha.
Begitupun saum Muhammad Saw., bukan hanya saum wajib di bulan ramadan, tetapi juga saum senin kamis maupun saum Daud (sehari saum, sehari buka). Zakatnya Muhammad Saw. telah disempurnakan dengan melaksanakan infaq, shadaqah dan wakaf sebagai ibadah maaliyah yang akan memberikan manfaat bagi manusia lain. Tidak lupa ibadah hajinya Muhammad Saw., bukan hanya ibadah ritual yang sekadar menjalankan teks-teks manasiknya saja, tetapi juga diwujudkan dalam filosofi kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari ibadah-ibadah ritual formal itu telah melahirkan kehidupan yang harmonis, dinamis dan egaliter.
Dalam kepribadiannya, Muhammad Saw. adalah sosok yang tenang dan tenteram, gagah berani, namun memiliki senyuman yang memikat, simpatik, ramah, sopan dan santun. Bahkan dalam hal-hal tertentu, Muhammad Saw. lebih pemalu daripada gadis-gadis pingitan, kemampuan intelektualnya tidak diragukan, daya imajinasinya sangat tinggi, dan ekspresinya sangat dalam. Muhammad Saw. dikenal sebagai seniman bahasa di kalangan para sastrawan. Di atas semuanya, pengabdiannya pada Allah Swt. serta keyakinan akan kehadiran-Nya tidak pernah terabaikan.
Dalam tata pergaulannya, Muhammad Saw. adalah pribadi yang memiliki akhlak luhur. Berperilaku lemah lembut, pemaaf, bermusyawarah, memohonkan ampun untuk orang lain. Sangat hormat pada orang yang usianya lebih tua, sangat sayang pada mereka yang usianya lebih muda. Diulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tidak dilepasnya sebelum yang dijabat tangannya belum melepaskannya. Muhammad Saw. tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan teman-temannya yang sedang duduk. Menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya. Berbicara perlahan dengan menggunakan dialek mitra bicaranya sambil sesekali mengigit bibirnya. Menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk dengan jari telunjuk ke telapak tangan kanannya.
Dalam kehidupan rumahtangganya, Muhammad Saw. sangat memuliakan dan melayani keperluan istrinya, seperti memasak, menyapu, melap lantai, menyalakan api, memeras susu dan membersihkan pakaian. Muhammad Saw. memanggil istrinya dengan panggilan yang baik dan menyenangkan. Panggilan itu umpamanya, Ya Humaira, wahai wanita yang kemerah-merahan lagi cantik nan menawan.
Setelah Muhammad Saw. meninggal dunia, ada beberapa orang menemui Siti ’Aisyah memintanya agar menceritakan perilaku suaminya. ’Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu. Air matanya berderai. Kemudian dengan nafas yang panjang, ia berkata, “kana kullu amrihi ’ajaba; ah semua perilaku Muhammad itu sangat indah.” Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Muhammad Saw. yang paling mempesona, ’Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Muhammad yang mulia bangun di tengah malam dan minta izin kepada ’Aisyah untuk salat malam. “Izinkan aku menyembah Tuhanku”, ujar Muhammad kepada ’Aisyah. Bayangkan, sampai untuk salat malam saja diperlukan izin istrinya. Di situ berhimpun kemesraan, keharmonisan, kesucian kesetiaan dan penghormatan.
Dalam penggunaan hartanya, Muhammad Saw. menggunakan harta yang paling mewah adalah sepasang alas kaki berwarna kuning yang merupakan hadiah dari Negus asal Abissinia. Muhammad Saw. tinggal di satu pondok kecil beratapkan jerami yang tingginya dapat dijangkau oleh seorang remaja. Kamar-kamarnya dipisahkan oleh batang-batang pohon yang direkat dengan lumpur bercampur kapur. Santapannya yang paling mewah, meskipun jarang dinikmati adalah madu, susu dan lengan kambing. Padahal keadaan beliau saat itu telah menguasai seluruh Jazirah Arab.
Dalam kehidupan bisnisnya, Muhammad Saw. menjalankan profesi dagangnya dilandasi dengan niat yang tulus sebagai bagian dari ibadah kepada Allah, berpedoman pada al Quran dan al Sunnah. Beliau melakukan jual belinya yang halal dengan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, musyawarah, tepat janji, tercatat dengan rapi, dan tidak lupa menyerahkan hak-hak Allah Saw. yang harus diberikan kepada orang-orang yang berhaknya, seperti zakat, infaq dan shadaqah.
Dalam interaksi dengan flora, fauna dan alam lingkungannya, Muhammad Saw. mengajarkan untuk senantiasa menyayangi binatang. Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya. Seorang wanita dimasukkan Allah Swt. ke neraka karena mengurung seekor kucing. Tidak diberinya makan dan juga tidak dilepaskan untuk mencari makan sendiri. Sementara itu, seorang yang bergelimang dosa diampuni Allah Swt. karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Muhammad Saw. pun tidak mengenal istilah menundukkan alam, karena istilah ini dapat mengantarkan manusia kepada sikap arogan, sewenang-wenang, dan penumpukkan tanpa batas pertimbangan pada asas kebutuhan yang diperlukan.
Dalam aktivitas kehidupan politiknya, Muhammad Saw. menjadikan kiprah politik sebagai media dakwah; menyeru umat manusia untuk menyembah Allah Swt. dan taat kepada-Nya, bukan untuk merebut kepemimpinan sebagai kepala negara. Kalau dalam kenyataan akhirnya Muhammad menjadi kepala negara –yang tak hanya disegani rakyat di jazirah Arab saat itu, tetapi juga disegani dua kekuatan super power pada zamannya, yaitu Romawi dan Persia— tugas suci berdakwah ini tak lepas darinya. Muhammad Saw. tidak pernah putus asa untuk terus meyelamatkan manusia dari kesesatan dan membawa mereka pada kebahagiaan dunia akhirat.
Proses dakwah ini membawa beliau kepada kehidupan yang penuh liku-liku, tantangan dan ujian silih berganti. Berbagai penganiayaan beliau hadapi, seperti dihina, disakiti, diusir dari kampung halaman, dilempari kotoran, hendak dibunuh, diperangi dan lain sebagainya. Bahkan beliau pernah dirayu, diiming-imingi dengan harta, tahta dan wanita asal beliau mau menghentikan dakwahnya. Tapi Muhammad Saw. tetap konsisten menjalankan tugas suci ini dengan santun sambil tetap berlindung kepada Allah Yang Maha Kuasa. Wallahu’alam bi al haq.
(Penulis, Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat dan Kepala Bidang Pelayanan dan Pembina Rohani RS Muhammadiyah Bandung)
Diterbitkan Buletin Jumat GEMA MUJAHIDIN,
Edisi 12 <27 Maret 2009>
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al Ahzab [33]: 21).
Setiap kali memasuki bulan Rabi’ul Awwal. Kaum muslimin diingatkan akan hari kelahiran manusia agung yang bernama Muhammad. Karena pada bulan inilah beliau dilahirkan, tepatnya pada minggu kedua bulan Rabi’ul Awwal Tahun Gajah atau bulan April 580 masehi di kota Mekkah.
Kehidupan Muhammad Saw. sejak kecil hingga akhir hayatnya telah menunjukkan suri tauladan baik yang harus diikuti dan dicontoh oleh setiap manusia sepanjang masa. Inilah makna terpenting yang harus diambil setiap kali kita bertemu dengan bulan ketiga dalam penanggalan hijriyah ini.
Dalam keyakinannya, Muhammad Saw. memiliki keyakinan yang sangat teguh, laa ilahaa illallaah; tiada Tuhan selain Allah. Dari doktrin ini Muhammad Saw. Meyakini bahwa tidak ada pencipta selain Allah Swt., tidak ada yang memberi rezeki selain Allah Swt., tidak ada yang memberi manfaat dan madharat selain Allah Swt., tidak ada yang mengatur alam semesta ini selain Allah Swt., tidak ada yang menjadi pelindung selain Allah Swt., tidak ada yang berhak menentukan hukum selain Allah Swt., tidak ada yang berhak memerintah dan melarang selain Allah Swt., tidak ada yang berhak menentukan undang-undang selain Allah Swt., tidak ada yang ditaati selain Allah Swt., dan tidak ada yang berhak disembah selain Allah Swt.
Dalam kehidupan peribadatannya, Muhammad Saw. senantiasa beribadah bukan hanya melaksanakan suatu peribadatan yang fardhu-formal saja, tetapi juga melakukan hal-hal yang nafilah, yaitu ibadah-ibadah tambahan. Salatnya Muhammad Saw. bukan hanya salat yang lima waktu secara teratur, tertib dan tepat waktu, tetapi juga disempurnakan dengan salat rawatib, salat malam/tahajjud, dan sesekali salat dhuha.
Begitupun saum Muhammad Saw., bukan hanya saum wajib di bulan ramadan, tetapi juga saum senin kamis maupun saum Daud (sehari saum, sehari buka). Zakatnya Muhammad Saw. telah disempurnakan dengan melaksanakan infaq, shadaqah dan wakaf sebagai ibadah maaliyah yang akan memberikan manfaat bagi manusia lain. Tidak lupa ibadah hajinya Muhammad Saw., bukan hanya ibadah ritual yang sekadar menjalankan teks-teks manasiknya saja, tetapi juga diwujudkan dalam filosofi kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari ibadah-ibadah ritual formal itu telah melahirkan kehidupan yang harmonis, dinamis dan egaliter.
Dalam kepribadiannya, Muhammad Saw. adalah sosok yang tenang dan tenteram, gagah berani, namun memiliki senyuman yang memikat, simpatik, ramah, sopan dan santun. Bahkan dalam hal-hal tertentu, Muhammad Saw. lebih pemalu daripada gadis-gadis pingitan, kemampuan intelektualnya tidak diragukan, daya imajinasinya sangat tinggi, dan ekspresinya sangat dalam. Muhammad Saw. dikenal sebagai seniman bahasa di kalangan para sastrawan. Di atas semuanya, pengabdiannya pada Allah Swt. serta keyakinan akan kehadiran-Nya tidak pernah terabaikan.
Dalam tata pergaulannya, Muhammad Saw. adalah pribadi yang memiliki akhlak luhur. Berperilaku lemah lembut, pemaaf, bermusyawarah, memohonkan ampun untuk orang lain. Sangat hormat pada orang yang usianya lebih tua, sangat sayang pada mereka yang usianya lebih muda. Diulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan tidak dilepasnya sebelum yang dijabat tangannya belum melepaskannya. Muhammad Saw. tidak pernah mengulurkan kaki di hadapan teman-temannya yang sedang duduk. Menoleh dengan seluruh badannya, menunjuk dengan seluruh jarinya. Berbicara perlahan dengan menggunakan dialek mitra bicaranya sambil sesekali mengigit bibirnya. Menggelengkan kepalanya dan menepuk-nepuk dengan jari telunjuk ke telapak tangan kanannya.
Dalam kehidupan rumahtangganya, Muhammad Saw. sangat memuliakan dan melayani keperluan istrinya, seperti memasak, menyapu, melap lantai, menyalakan api, memeras susu dan membersihkan pakaian. Muhammad Saw. memanggil istrinya dengan panggilan yang baik dan menyenangkan. Panggilan itu umpamanya, Ya Humaira, wahai wanita yang kemerah-merahan lagi cantik nan menawan.
Setelah Muhammad Saw. meninggal dunia, ada beberapa orang menemui Siti ’Aisyah memintanya agar menceritakan perilaku suaminya. ’Aisyah sesaat tidak menjawab permintaan itu. Air matanya berderai. Kemudian dengan nafas yang panjang, ia berkata, “kana kullu amrihi ’ajaba; ah semua perilaku Muhammad itu sangat indah.” Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Muhammad Saw. yang paling mempesona, ’Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Muhammad yang mulia bangun di tengah malam dan minta izin kepada ’Aisyah untuk salat malam. “Izinkan aku menyembah Tuhanku”, ujar Muhammad kepada ’Aisyah. Bayangkan, sampai untuk salat malam saja diperlukan izin istrinya. Di situ berhimpun kemesraan, keharmonisan, kesucian kesetiaan dan penghormatan.
Dalam penggunaan hartanya, Muhammad Saw. menggunakan harta yang paling mewah adalah sepasang alas kaki berwarna kuning yang merupakan hadiah dari Negus asal Abissinia. Muhammad Saw. tinggal di satu pondok kecil beratapkan jerami yang tingginya dapat dijangkau oleh seorang remaja. Kamar-kamarnya dipisahkan oleh batang-batang pohon yang direkat dengan lumpur bercampur kapur. Santapannya yang paling mewah, meskipun jarang dinikmati adalah madu, susu dan lengan kambing. Padahal keadaan beliau saat itu telah menguasai seluruh Jazirah Arab.
Dalam kehidupan bisnisnya, Muhammad Saw. menjalankan profesi dagangnya dilandasi dengan niat yang tulus sebagai bagian dari ibadah kepada Allah, berpedoman pada al Quran dan al Sunnah. Beliau melakukan jual belinya yang halal dengan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, musyawarah, tepat janji, tercatat dengan rapi, dan tidak lupa menyerahkan hak-hak Allah Saw. yang harus diberikan kepada orang-orang yang berhaknya, seperti zakat, infaq dan shadaqah.
Dalam interaksi dengan flora, fauna dan alam lingkungannya, Muhammad Saw. mengajarkan untuk senantiasa menyayangi binatang. Apabila kalian mengendarai binatang, berikanlah haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya. Seorang wanita dimasukkan Allah Swt. ke neraka karena mengurung seekor kucing. Tidak diberinya makan dan juga tidak dilepaskan untuk mencari makan sendiri. Sementara itu, seorang yang bergelimang dosa diampuni Allah Swt. karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Muhammad Saw. pun tidak mengenal istilah menundukkan alam, karena istilah ini dapat mengantarkan manusia kepada sikap arogan, sewenang-wenang, dan penumpukkan tanpa batas pertimbangan pada asas kebutuhan yang diperlukan.
Dalam aktivitas kehidupan politiknya, Muhammad Saw. menjadikan kiprah politik sebagai media dakwah; menyeru umat manusia untuk menyembah Allah Swt. dan taat kepada-Nya, bukan untuk merebut kepemimpinan sebagai kepala negara. Kalau dalam kenyataan akhirnya Muhammad menjadi kepala negara –yang tak hanya disegani rakyat di jazirah Arab saat itu, tetapi juga disegani dua kekuatan super power pada zamannya, yaitu Romawi dan Persia— tugas suci berdakwah ini tak lepas darinya. Muhammad Saw. tidak pernah putus asa untuk terus meyelamatkan manusia dari kesesatan dan membawa mereka pada kebahagiaan dunia akhirat.
Proses dakwah ini membawa beliau kepada kehidupan yang penuh liku-liku, tantangan dan ujian silih berganti. Berbagai penganiayaan beliau hadapi, seperti dihina, disakiti, diusir dari kampung halaman, dilempari kotoran, hendak dibunuh, diperangi dan lain sebagainya. Bahkan beliau pernah dirayu, diiming-imingi dengan harta, tahta dan wanita asal beliau mau menghentikan dakwahnya. Tapi Muhammad Saw. tetap konsisten menjalankan tugas suci ini dengan santun sambil tetap berlindung kepada Allah Yang Maha Kuasa. Wallahu’alam bi al haq.
(Penulis, Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Barat dan Kepala Bidang Pelayanan dan Pembina Rohani RS Muhammadiyah Bandung)
Langganan:
Postingan (Atom)
